BERITA TERKINI
Orang Tua Sibuk Ponsel, Anak Belajar Mengabaikan: Dampak Technofeference pada Relasi dan Perkembangan Anak

Orang Tua Sibuk Ponsel, Anak Belajar Mengabaikan: Dampak Technofeference pada Relasi dan Perkembangan Anak

Smartphone telah menjadi bagian dari keseharian banyak orang di era digital. Namun, kemudahan teknologi juga membawa konsekuensi yang kerap luput disadari, terutama dalam hubungan orang tua dan anak. Kehadiran fisik di rumah tidak selalu berarti hadir secara emosional ketika perhatian lebih sering tertuju pada layar ponsel.

Menurut laporan yang dilansir dari edufic.id, kebiasaan orang tua yang sibuk dengan gadget dapat membentuk cara anak memandang perhatian, hubungan, dan kehadiran orang terdekatnya.

Anak belajar dari apa yang mereka lihat

Anak dikenal sebagai peniru yang kuat. Mereka tidak hanya mendengar nasihat, tetapi juga menyerap perilaku yang dilihat setiap hari. Ketika ayah lebih sering menatap layar ponsel dibanding menatap anak, hal itu dapat menanamkan pesan bahwa perhatian bukan prioritas.

Dalam jangka panjang, situasi ini dapat membuat anak terbiasa mengabaikan kehadiran orang lain. Pola tersebut juga berpotensi ditiru anak dalam pertemanan maupun relasi sosial di masa depan.

Technofeference: interaksi keluarga yang terganggu teknologi

Interaksi orang tua yang terpecah oleh perangkat digital dikenal sebagai technofeference. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika komunikasi dan kedekatan emosional terganggu karena penggunaan teknologi.

Masih merujuk pada edufic.id, penelitian menunjukkan anak dari orang tua yang sering menggunakan smartphone di depan mereka cenderung menampilkan ekspresi positif yang lebih sedikit. Anak juga disebut berupaya lebih besar untuk menarik perhatian, misalnya melalui perilaku berlebihan atau menjadi lebih mudah rewel.

Dampak waktu layar pada perkembangan otak anak

Pengaruh teknologi tidak hanya terkait hubungan emosional, tetapi juga perkembangan otak anak. Laporan tersebut menyebutkan riset berbasis MRI pada anak prasekolah menemukan kaitan antara screen time yang tinggi dengan integritas white matter yang lebih rendah pada jalur bahasa dan literasi.

White matter berperan dalam kemampuan berpikir, komunikasi, dan proses belajar. Jika kualitasnya menurun, anak berpotensi mengalami kesulitan fokus dan memahami informasi.

Gangguan fokus ketika smartphone berada di dekat anak

Selain itu, riset EEG pada anak usia 5 hingga 8 tahun yang dikutip dalam laporan yang sama menunjukkan bahwa kehadiran smartphone di dekat anak saat mengerjakan tugas dapat menurunkan frekuensi theta frontal. Kondisi ini dikaitkan dengan kontrol perhatian yang lebih rendah.

Temuan-temuan tersebut menyoroti bahwa penggunaan gadget di sekitar anak bukan hanya persoalan kebiasaan, melainkan dapat berpengaruh pada kualitas interaksi keluarga dan aspek perkembangan anak.