Obrolan ringan sehabis berbuka puasa membawa Semar, Petruk, dan Gareng pada pembahasan yang tak terduga: gadget. Malam itu, ketiganya tidak segera tidur. Mereka memilih mengobrol hingga waktu sahur mendekat, khawatir tertidur dan melewatkannya.
Perbincangan kemudian memanas ketika Petruk dan Gareng saling mempertahankan pendapat masing-masing soal kecanggihan alat komunikasi. Di tengah suasana debat, Semar yang mulai mengantuk ikut menyela dengan pertanyaan yang memancing tawa: “Gadget itu binatang apa?” Petruk dan Gareng serempak menjawab bahwa gadget bukanlah binatang, melainkan alat komunikasi yang kini kerap dianggap perlu dimiliki.
Dari percakapan itu, Semar menangkap kesimpulan sederhana: gadget adalah perangkat komunikasi yang dianggap penting di era global. Penjelasan tersebut membuat Semar kembali bersemangat dan ikut melanjutkan diskusi sambil bersantap sahur.
Pembahasan lalu melebar ke soal komunikasi. Dalam obrolan itu disebutkan bahwa komunikasi dibutuhkan manusia sejak sebelum lahir, misalnya ketika calon orang tua berinteraksi dengan anak yang masih dalam kandungan. Kemampuan berkomunikasi juga dinilai dapat membantu seseorang membangun pertemanan, merasa nyaman dalam pergaulan, dan tidak terisolasi. Sejumlah pekerjaan bahkan menuntut keterampilan komunikasi yang baik, seperti sales, marketer, pengacara, dosen, guru, pendeta, kyai, tokoh masyarakat, pembawa acara, politisi, juru kampanye, dan juru bicara.
Namun, gaya hidup modern yang lekat dengan gadget turut dinilai membawa dampak ganda. Di satu sisi, teknologi memudahkan komunikasi. Di sisi lain, kebiasaan menggunakan gadget berlebihan disebut dapat memengaruhi kualitas interaksi, termasuk di lingkungan keluarga. Dalam gambaran yang muncul dalam obrolan itu, anggota keluarga bisa saja duduk bersama di meja makan, tetapi masing-masing lebih sibuk dengan perangkatnya ketimbang berbincang tentang hal-hal sederhana di rumah.
Komunikasi juga dipandang sebagai peristiwa sosial yang terjadi saat manusia berinteraksi dengan orang lain, seperti antara orang tua dan anak, suami dan istri, mertua dan menantu, pemimpin dan bawahan, hingga pejabat publik dan masyarakat. Dalam relasi-relasi tersebut, komunikasi yang baik dianggap penting untuk mencegah salah paham yang dapat berakibat serius.
Di tengah semakin luasnya pemakaian gadget, ketiganya juga menyinggung perlunya berpikir maju agar tidak tertinggal perkembangan teknologi. Gadget tidak hanya dimaknai sebagai ponsel, telepon pintar, tablet, atau PC, melainkan istilah yang lebih luas. Gadget disebut berasal dari bahasa Inggris dan merujuk pada alat elektronik atau digital berukuran kecil dengan kegunaan khusus. Dalam pemahaman bahasa Indonesia, gadget dipandang sebagai objek teknologi kecil yang memiliki fungsi tertentu dan sering diasosiasikan sebagai inovasi atau barang baru.
Dalam rujukan yang disebutkan, KBBI mencatat gadget sebagai “acang” atau alat canggih. Sementara itu, Wikipedia menggambarkan gadget sebagai objek teknologi kecil yang memiliki fungsi tertentu dan kerap dianggap baru, bahkan dinilai lebih cerdik dirancang dibandingkan teknologi umum pada masa kemunculannya.
Menjelang akhir sahur, obrolan pun ditutup. Setelah berdiskusi panjang, Semar, Petruk, dan Gareng kembali tidur. Semar kini memahami bahwa gadget bukanlah “binatang”, melainkan perangkat komunikasi yang dinilai cukup canggih dan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Jakarta, 15 Maret 2026