BERITA TERKINI
Muhammadiyah dan LPDP Kolaborasi Pendanaan Riset Rp20 Miliar untuk Dorong Hilirisasi Inovasi

Muhammadiyah dan LPDP Kolaborasi Pendanaan Riset Rp20 Miliar untuk Dorong Hilirisasi Inovasi

Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) menjalin kolaborasi dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dalam program Pendanaan Riset RISPRO Invitasi Berkemajuan. Kerja sama ini ditujukan untuk mendorong hilirisasi hasil riset bagi Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dan masyarakat Indonesia, dengan fokus pada pengembangan teknologi inovasi.

Dalam skema pendanaan ini, total dana yang disinergikan mencapai Rp20 miliar. Pendanaan bersumber dari skema pooling fund dengan kontribusi berimbang, yakni Rp10 miliar dari Muhammadiyah dan Rp10 miliar dari LPDP.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Muhadjir Effendy, dalam acara yang digelar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada Kamis (19/2), menyampaikan bahwa kolaborasi tersebut menjadi ikhtiar bersama untuk mendorong riset dan penguatan sumber daya unggul yang dimiliki bangsa.

Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Bambang Setiaji menekankan pentingnya memastikan kerja sama riset tidak berhenti pada aspek pendanaan semata. Ia berharap program ini menghasilkan dampak konkret bagi kemajuan bangsa dan negara, terutama bagi generasi persyarikatan Muhammadiyah.

“Kami dan masyarakat berharap sekali agar ini berdampak sebagai namanya riset inovasi produktif. Kami harapkan pendanaan ini benar-benar bisa bermanfaat bagi kemajuan industri berdampak. Dengan demikian, negara kita ini dapat terasa kemajuannya,” ujar Bambang.

Direktur Fasilitasi Riset LPDP Ayom Widipaminto menjelaskan bahwa skema pendanaan tersebut difokuskan pada lima tema riset utama, yaitu ketahanan pangan dan pertanian; transisi energi, material, dan manufaktur; kesehatan; rekayasa dan teknologi digital; serta sosial, ekonomi, dan humaniora.

Ayom juga memaparkan proses seleksi proposal dalam program ini. Menurutnya, terdapat 187 proposal yang masuk dan kemudian disaring menjadi 26 proposal terbaik, yang mayoritas berasal dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA). “Ada 187 proposal yang sudah kami terima dan akhirnya terpilih 26 terbaik yang mayoritas berasal dari PTMA. Ini menunjukkan ternyata kualitas riset dari PTMA ini bukan ‘ecek-ecek’,” ucapnya.