Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman mencatat penurunan tajam pada statistik kegemaran membaca masyarakat. Penurunan tersebut dinilai dipengaruhi meningkatnya aktivitas dan penggunaan internet yang semakin masif.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman, Shavitri Nurmala Dewi, mengatakan penurunan terlihat signifikan bila dibandingkan capaian tahun 2024. Dampaknya turut memengaruhi posisi Sleman dalam pemeringkatan tingkat kegemaran membaca di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Pada 2025, Sleman berada di peringkat ketiga tingkat kegemaran membaca se-DIY, di bawah Kabupaten Kulon Progo dan Bantul. Shavitri menyebut penurunan juga terjadi di seluruh wilayah DIY dan tergolong cukup besar, dari kisaran angka 80 menjadi 50-an.
Menurut Shavitri, kemudahan akses internet menjadi faktor terbesar yang memengaruhi perubahan kebiasaan membaca. Ia menilai kecenderungan anak-anak untuk membaca buku konvensional atau fisik semakin menurun seiring pilihan sumber bacaan yang beralih ke internet dan e-book.
Dalam survei, kata dia, terdapat pilihan antara membaca buku konvensional dan membaca melalui internet. Kondisi ini, menurut Shavitri, menjadi perhatian bagi pendidik dan berbagai pihak terkait, terutama terkait cara anak-anak mencari sumber referensi.
Ia juga menyoroti perubahan cara memperoleh informasi. Jika sebelumnya mencari pengetahuan identik dengan membaca buku, kini anak-anak disebut lebih sering menggunakan layanan berbasis kecerdasan buatan seperti ChatGPT maupun Gemini.
Penurunan turut tercermin pada Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Sleman. Berdasarkan evaluasi, IPLM Sleman turun satu peringkat, dari posisi ketiga menjadi peringkat keempat pada 2025.
Meski demikian, target literasi masyarakat Sleman pada 2025 disebut masih menunjukkan tren positif karena capaian melampaui target, dari 54,04 menjadi 67,18. Namun Shavitri mengakui tantangan di lapangan tetap besar, termasuk keterbatasan sarana pendukung literasi.
Salah satu kendala yang disorot adalah keterbatasan armada perpustakaan keliling Jaka Tingkir (Jelajah Perpustakaan Menuju Literasi yang Terkini dan Responsif). Saat ini, layanan tersebut baru mampu menjangkau maksimal sekitar 85 sekolah per tahun, sementara jumlah sekolah di Sleman disebut mencapai lebih dari 600 institusi.