Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Meutya Hafid menyoroti tantangan kepercayaan publik terhadap startup di Indonesia menyusul sejumlah kasus kecurangan (fraud) dan gagal bayar yang melibatkan beberapa perusahaan. Menurut Meutya, meski jumlah kasusnya tidak banyak, dampaknya dinilai besar karena ikut memengaruhi reputasi ekosistem digital nasional.
“Di Indonesia, kami memiliki tantangan dalam hal mempercayai startup,” kata Meutya usai menyampaikan keynote speech dalam Tech In Asia Conference 2025 di Jakarta, Rabu (22/10).
Ia merujuk pada paparan pendiri Bukalapak, Achmad Zaky, yang menggambarkan dampak startup terhadap perekonomian, termasuk besaran valuasi dan serapan tenaga kerja. Dari data tersebut, Meutya menekankan bahwa jumlah startup yang berhasil di Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan yang bermasalah.
“Kami tahu ada beberapa kasus. Sebetulnya angkanya tidak banyak, tetapi kemudian ini menghukum ekosistem digital cukup besar di Tanah Air,” ujar Meutya.
Sejumlah kasus yang menjadi sorotan antara lain TaniHub, eFishery, dan Investree. Pada TaniHub, Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan mengusut perkara terkait investasi US$ 25 juta atau sekitar Rp 400 miliar dari MDI Ventures dan BRI Ventures kepada TaniHub Group dan afiliasi selama 2019–2023. Kejari menduga adanya tindak pidana korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU), serta menyatakan penyidikan masih dikembangkan untuk menelusuri aliran dana dan kemungkinan keterlibatan pihak lain.
Di sisi lain, unit bisnis pinjaman online TaniHub, yakni TaniFund, mencatat tingkat wanprestasi di atas 90 hari (TWP 90) sebesar 63,93% pada Maret 2023 dan dilaporkan gagal membayar dana pemberi pinjaman (lender). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kemudian menutup izin usaha TaniFund pada 3 Mei 2024 dan mewajibkan penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk memutuskan pembubaran serta pembentukan tim likuidasi. Pada awal 2024, investor juga mulai menggugat ke pengadilan, dengan tiga gugatan di Pengadilan Jakarta Selatan senilai total Rp 471,2 juta.
Kasus lain terjadi pada eFishery. CEO eFishery Gibran Huzaifah, yang jabatannya kini ditangguhkan, mengakui dirinya memoles angka laporan keuangan. Laporan investigasi awal FTI Consulting—yang ditunjuk manajemen eFishery di bawah investor—menyebut manajemen sebelumnya diduga menggelembungkan dana perusahaan sebesar US$ 600 juta atau sekitar Rp 9,8 triliun selama Januari–September 2024. Di tengah proses penanganan kasus tersebut, eFishery melaporkan dua petinggi berinisial G dan C kepada kepolisian dan OJK terkait dugaan fraud.
Dalam laporan terbaru FTI Consulting yang ditinjau Bloomberg dan dikutip DealStreetAsia, eFishery disebut merugi US$ 50 juta atau sekitar Rp 819,3 miliar sepanjang tahun lalu. Laporan itu juga menilai perusahaan tidak layak secara komersial dan sebagian besar bisnisnya harus ditutup.
Sementara itu, pada Investree, eks CEO Adrian Gunadi ditangkap interpol saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta pada 26 September setelah sebelumnya berstatus buron dan berada di Qatar. Adrian diduga melakukan penghimpunan dana masyarakat tanpa izin OJK dengan kerugian mencapai Rp 2,7 triliun dan terancam hukuman hingga 10 tahun penjara.
Selain kasus-kasus tersebut, Meutya juga menyinggung adanya beberapa startup fintech lending yang diduga mengalami gagal bayar kepada lender, termasuk yang terbaru disebut Dana Syariah Indonesia.
Di tengah tantangan tersebut, Meutya menegaskan ekosistem digital Indonesia tetap bertumbuh. Mengacu laporan Google, Temasek, dan Bain bertajuk e-Conomy SEA 2024, nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai US$ 90 miliar atau sekitar Rp 1.424 triliun pada tahun lalu, naik 13% secara tahunan dari US$ 80 miliar.
Menurut data laporan tersebut, sektor dengan pertumbuhan tertinggi adalah pariwisata atau online travel yang naik 24% menjadi US$ 9 miliar. Sementara itu, e-commerce naik 11% menjadi US$ 65 miliar, transportasi dan makanan naik 13% menjadi US$ 9 miliar, serta media naik 12% menjadi US$ 8 miliar. Pada sektor fintech, pembayaran online tercatat naik 19% menjadi US$ 404 miliar, pinjaman online naik 27% menjadi US$ 9 miliar, aset kelolaan investasi online naik 32% menjadi US$ 5 miliar, dan asuransi online naik 18% menjadi US$ 200 juta.
Laporan itu juga memproyeksikan nilai ekonomi digital Indonesia dapat meningkat 300% dibandingkan 2024 menjadi US$ 210 miliar hingga US$ 360 miliar pada 2030, dengan catatan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dimaksimalkan di berbagai sektor.
Untuk memperkuat ekosistem startup, Komdigi menyiapkan sejumlah inisiatif. Di antaranya Garuda Spark Innovation Hub untuk pengembangan talenta digital dan ekosistem startup, Digital Innovation Hub sebagai wadah kolaborasi pelaku ekosistem, serta Data Startup Indonesia yang ditujukan menjadi peta komprehensif sistem digital, termasuk informasi startup, investor, sektor, dan wilayah.
Komdigi juga berencana membangun Digital Startup Index. “Kami juga akan membangun Digital Startup Index, framework maturatif yang dibuat untuk mengetahui dan mendukung potensi struktur ekosistem di Indonesia,” kata Meutya.