BERITA TERKINI
Meta Restrukturisasi Reality Labs, Tutup Tiga Studio VR dan Alihkan Fokus ke Wearable Berbasis AI

Meta Restrukturisasi Reality Labs, Tutup Tiga Studio VR dan Alihkan Fokus ke Wearable Berbasis AI

Meta mengalihkan fokus strategisnya dari pengembangan metaverse, ditandai dengan restrukturisasi besar di divisi Reality Labs yang selama ini menjadi pusat investasi perusahaan pada ekosistem Virtual Reality (VR). Perubahan ini berdampak langsung pada pengembangan konten VR serta arah investasi Meta ke depan.

Dalam restrukturisasi tersebut, Meta memutuskan hubungan kerja terhadap lebih dari 1.000 karyawan di Reality Labs, setara sekitar 10% dari tenaga kerja divisi itu. Dalam memo internal pimpinan perusahaan, langkah ini disebut bertujuan membentuk organisasi yang lebih efisien, sederhana, dan berkelanjutan.

Sejalan dengan pengurangan tim, Meta juga menutup tiga studio pengembang gim VR miliknya, yakni Armature Studio, Sanzaru Games, dan Twisted Pixel. Penutupan ini mempertegas penurunan prioritas Meta terhadap pengembangan konten VR eksklusif, setelah Reality Labs mencatat kerugian sekitar US$50 miliar pada periode 2020 hingga 2024.

Meta menyatakan pengembangan metaverse tetap berlanjut, namun perusahaan tidak lagi menempatkan headset VR yang sepenuhnya imersif sebagai pusat pengalaman utama. Prioritas baru diarahkan ke platform berbasis perangkat mobile serta perangkat wearable yang mengandalkan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Juru bicara Meta menyebut restrukturisasi dan pengurangan investasi tersebut merupakan bagian dari realokasi sumber daya dari pengembangan metaverse menuju pengembangan wearables. Dana yang dihemat akan digunakan kembali untuk mendorong pertumbuhan lini produk wearable Meta pada tahun ini. Pergeseran ini juga mencerminkan penilaian bahwa headset VR belum mencapai target yang diharapkan, sehingga perusahaan memusatkan perhatian pada produk yang lebih dekat dengan kebutuhan harian pengguna, seperti kacamata pintar.

Meski demikian, perubahan haluan ini dinilai tidak otomatis menjamin keberhasilan. Sejumlah analis dan pengamat menyoroti dua tantangan utama. Pertama, beban warisan dari era metaverse yang kini dipandang sebagai investasi yang tidak sesuai arah, setelah visi metaverse sebagai masa depan internet dinilai gagal memenuhi ekspektasi.

Kedua, tantangan yang mengiringi produk wearable berbasis AI yang menjadi fokus baru Meta. Kacamata pintar Ray-Ban Meta, misalnya, menghadapi kritik terkait harga premium, desain yang belum tentu diterima luas, ketergantungan fungsi pada ponsel, serta kekhawatiran privasi pengguna. Faktor-faktor tersebut dinilai berpotensi membuat Meta kembali mengeluarkan biaya besar untuk teknologi yang belum terbukti diterima pasar.

Penutupan tiga studio VR dan restrukturisasi Reality Labs menandai perubahan besar dalam strategi Meta. Perusahaan kini memasuki fase baru dengan bertaruh pada perangkat wearable berbasis AI dan pengalaman mobile sebagai jalur pertumbuhan berikutnya.