BERITA TERKINI
Meta PHK Lebih dari 1.000 Karyawan Reality Labs dan Tutup Tiga Studio VR, Alihkan Fokus ke Wearable Berbasis AI

Meta PHK Lebih dari 1.000 Karyawan Reality Labs dan Tutup Tiga Studio VR, Alihkan Fokus ke Wearable Berbasis AI

Meta Platforms Inc. melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap lebih dari 1.000 karyawan di divisi Reality Labs, setara sekitar 10% dari total tenaga kerja divisi tersebut. Kebijakan ini beriringan dengan keputusan perusahaan menutup tiga studio pengembangan virtual reality (VR), sebagai bagian dari pergeseran fokus dari metaverse menuju teknologi wearable berbasis kecerdasan buatan (AI) serta fitur untuk ponsel.

PHK dan penutupan studio mulai berjalan pada Rabu, 13 Januari 2026. Tiga studio VR yang dihentikan operasionalnya adalah Armature Studios, pengembang Resident Evil 4 VR; Sanzaru Games, kreator Asgard’s Wrath; serta Twisted Pixel, yang dikenal melalui Defector dan merilis Deadpool VR pada 2025.

Langkah ini menegaskan besarnya tantangan Meta dalam mengembangkan metaverse melalui Reality Labs. Chief Technology Officer Meta, Andrew “Boz” Bosworth, pada awal 2025 sempat menyatakan bahwa metaverse bisa menjadi “petualangan yang legendaris namun salah arah” apabila Reality Labs tidak mampu menunjukkan perbaikan signifikan.

Catatan Mureks menunjukkan Reality Labs telah mencatat kerugian sekitar 50 miliar dolar AS sepanjang 2020 hingga 2024, dengan defisit pendapatan yang disebut terus melebar. Dalam memo internal yang dilaporkan dilihat oleh Bloomberg, Bosworth menulis bahwa mulai saat itu organisasi VR akan dibuat lebih ramping dan lebih datar, dengan peta jalan yang lebih terfokus untuk memaksimalkan keberlanjutan jangka panjang. Meta juga disebut berencana menginvestasikan kembali penghematan dari PHK untuk mendukung pertumbuhan teknologi wearable pada tahun ini.

Meski demikian, Meta tidak sepenuhnya meninggalkan metaverse. Pengembangan metaverse dilaporkan tetap berjalan, namun dengan penekanan pada perangkat seluler, bukan lagi pada pengalaman “headset VR yang sepenuhnya imersif” seperti yang sebelumnya menjadi inti. Pengembangan headset VR juga akan berlanjut, tetapi dengan laju yang lebih lambat.

Juru bicara Meta menyatakan pemangkasan ini merupakan bagian dari upaya yang telah diumumkan sebelumnya untuk mengalihkan investasi “dari metaverse menuju wearable.” Perusahaan menilai AI wearable dan fitur ponsel sebagai gagasan besar berikutnya yang berpotensi menjadi produk unggulan.

Namun, peralihan ke AI wearable juga memunculkan sejumlah kekhawatiran. Editor senior PC Gamer, Wes Fenlon, pada 2021 pernah menyebut konsep metaverse sebagai “omong kosong.” Keraguan serupa kini mengiringi AI wearable, mulai dari harga yang mahal—misalnya 799 dolar AS untuk kacamata yang memerlukan AI Meta di ponsel—hingga isu privasi yang dinilai sulit dihindari, serta potensi masalah hukum yang dapat muncul.

Mureks menilai ada risiko AI wearable menghadapi “ladang ranjau” yang sama seperti metaverse, ketika produk dipersepsikan tidak praktis atau memunculkan keraguan di kalangan konsumen. Pertanyaan yang tersisa adalah apakah AI wearable benar-benar akan menjadi arus utama dalam waktu dekat, atau justru menjadi investasi besar berikutnya yang belum tentu menghasilkan dampak signifikan.