Meta dikabarkan tengah mempertimbangkan pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam skala besar yang berpotensi berdampak pada sekitar 20% karyawannya. Rencana ini disebut muncul seiring meningkatnya biaya pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang kini menjadi fokus investasi perusahaan.
Laporan Reuters menyebutkan, berdasarkan tiga sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, manajemen Meta telah memberi sinyal kepada sejumlah pimpinan senior untuk mulai merancang skenario pengurangan tenaga kerja. Namun, hingga saat ini belum ada jadwal resmi maupun angka final mengenai jumlah karyawan yang akan terdampak.
Jika pengurangan karyawan benar mencapai 20%, langkah ini akan menjadi yang terbesar sejak restrukturisasi Meta pada periode 2022 hingga 2023, saat perusahaan menjalankan program “tahun efisiensi”. Meta tercatat mempekerjakan sekitar 79 ribu orang per 31 Desember 2025.
Meta belum mengonfirmasi kabar tersebut. Juru bicara Meta, Andy Stone, menyebut laporan itu sebagai spekulasi mengenai pendekatan teoritis perusahaan, sebagaimana dikutip Reuters pada Minggu (15/3).
Wacana efisiensi ini muncul di tengah ambisi CEO Meta Mark Zuckerberg untuk memperkuat posisi perusahaan dalam persaingan AI generatif. Dalam setahun terakhir, Meta dilaporkan gencar merekrut peneliti AI papan atas dengan paket kompensasi yang dapat mencapai ratusan juta dolar untuk periode empat tahun.
Di sisi lain, Meta juga menyiapkan investasi infrastruktur besar. Perusahaan disebut berencana menggelontorkan hingga US$ 600 miliar atau sekitar Rp 10.160 triliun (kurs Rp 16.934 per dolar AS) untuk membangun jaringan pusat data AI hingga 2028. Meta juga aktif melakukan akuisisi, termasuk membeli startup AI serta platform sosial yang dirancang untuk agen AI.
Zuckerberg sebelumnya menyampaikan bahwa kemajuan AI memungkinkan pekerjaan yang dulu membutuhkan tim besar kini dapat dikerjakan oleh satu orang berkemampuan tinggi dengan dukungan teknologi AI.
Rencana Meta tersebut mencerminkan tren yang lebih luas di industri teknologi Amerika Serikat, ketika perusahaan mulai menyesuaikan struktur tenaga kerja seiring meningkatnya otomatisasi berbasis AI. Amazon, misalnya, telah mengonfirmasi pemangkasan sekitar 16 ribu pekerjaan atau hampir 10% dari total tenaga kerjanya. Sementara itu, perusahaan fintech Block Inc disebut memangkas hampir separuh stafnya, dengan pendirinya Jack Dorsey secara terbuka menyebut kemampuan AI sebagai salah satu alasan utama.
Meski demikian, upaya Meta di bidang AI dilaporkan tidak selalu berjalan mulus. Model bahasa besar perusahaan, Llama 4, sempat mendapat kritik karena menghasilkan tolok ukur yang dinilai menyesatkan pada versi awalnya. Meta juga disebut membatalkan peluncuran model terbesar yang dijuluki Behemoth.
Tim AI Meta kini dilaporkan mengembangkan model baru bernama Avocado untuk mengejar ketertinggalan. Namun, performa model tersebut disebut belum memenuhi ekspektasi internal perusahaan.