Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya menerima audiensi Asosiasi Startup for Industri Indonesia (Starfindo) untuk menjajaki peluang kolaborasi strategis dalam memperkuat ekosistem startup dan industri kreatif nasional.
Dalam pertemuan tersebut, Teuku Riefky menekankan pentingnya mendorong setiap pegiat ekonomi kreatif agar “naik kelas” melalui kurasi, komersialisasi kekayaan intelektual (KI), serta perluasan akses pasar dan pembiayaan. Ia menyampaikan Kementerian Ekraf memfokuskan 80 persen energinya sebagai akselerator bagi pegiat ekraf, termasuk asosiasi startup seperti Starfindo, agar dapat berkembang hingga mencapai level mandiri.
Melalui Direktorat Kreativitas Digital dan Teknologi, Kementerian Ekraf juga disebut terus menjaring pegiat subsektor aplikasi untuk menghasilkan inovasi berkelanjutan. Teuku Riefky menilai subsektor aplikasi mengalami peningkatan signifikan, meski masih menghadapi tantangan pendanaan, perlindungan KI, serta target pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) dan ekspor.
Teuku Riefky menyatakan kesiapan berkolaborasi dengan Starfindo melalui Program ASTA EKRAF, antara lain Ekraf Data dan Ekraf Bijak. Namun, ia menegaskan perlunya pemetaan yang jelas terkait tantangan, tujuan, serta arah kerja satuan atau direktorat yang terlibat agar kolaborasi berdampak lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Starfindo berada dalam ekosistem Kementerian Perindustrian Republik Indonesia dengan tujuan membantu startup yang membutuhkan solusi dari perusahaan rintisan serta mempercepat penyampaian teknologi. Upaya tersebut didukung melalui Program Startup4industry.id yang berjalan sejak 2018 dan telah memiliki 1.300 alumni dari bidang seperti Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), dan e-commerce.
Dalam audiensi, Starfindo mengajukan tujuh poin strategis untuk dirumuskan bersama, meliputi kebijakan dan regulasi; bisnis dan pengadaan; pengembangan infrastruktur dan teknologi; akses pembiayaan dan investasi; pengembangan ekosistem dan sumber daya manusia; ekspansi global dan branding nasional; serta kemudahan akses dan kolaborasi strategis.
Wakil Ketua Umum Starfindo Hembang Nugraha menyatakan inti usulan tersebut berkaitan dengan kemandirian teknologi. Ia menyebut Starfindo menampung aspirasi anggota yang membuka potensi kerja sama melalui jalur pemerintahan atau business to Government (B2G), serta berharap Kementerian Ekraf dapat memfasilitasi dan membuka jalan agar terdapat arahan terpadu bersama Kementerian Perindustrian.
Pertemuan juga membahas sejumlah isu strategis, mulai dari kebutuhan insentif fiskal, transparansi pengadaan pemerintah, penguatan pencatatan ekonomi digital, hingga pemanfaatan teknologi seperti AI untuk mempercepat produksi dan inovasi startup. Hembang turut menyampaikan harapannya agar ekosistem startup semakin diminati venture capital sehingga akses pembiayaan, termasuk dari perbankan, menjadi lebih mudah. Ia menyinggung karakter kekayaan intelektual digital sebagai aset tidak berwujud, sementara perusahaan teknologi digital seperti startup memiliki valuasi dan kreativitas yang dapat mendorong perputaran ekonomi.
Kementerian Ekraf menyambut berbagai usulan tersebut dan menyatakan akan mengkaji lebih lanjut untuk mengidentifikasi peluang kolaborasi yang paling memungkinkan, serta dapat diimplementasikan secara bertahap melalui sinergi lintas sektor.
Dalam pertemuan itu, Teuku Riefky didampingi Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Muhammad Neil El Himam; Staf Khusus Menteri Bidang Manajemen Internal dan Efektivitas Organisasi Muhammad Yanuar Pranuradhi; Direktur Aplikasi Tri Wahyudi; Tenaga Ahli Menteri Bidang Isu Strategis dan Antarlembaga Gemintang Kejora Mallarangeng; serta Tenaga Ahli Menteri Bidang Monitoring Media dan Opini Publik Hasbil Mustaqim Lubis.