Jakarta – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menilai tingginya tingkat adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Indonesia perlu diarahkan untuk mendorong produktivitas nasional. Menurutnya, pemanfaatan AI harus mampu menciptakan nilai ekonomi yang signifikan sekaligus memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global.
Dalam keterangan pers di Jakarta, Selasa (24/2/2026), Meutya menyebut data menunjukkan adopsi AI di Indonesia telah mencapai 92 persen. Namun, ia menilai penggunaan AI untuk sektor-sektor produktif masih perlu diperluas secara masif.
“Walau dengan adopsi AI 92 persen, penggunaan AI untuk produktivitas di Indonesia masih minim, inilah mengapa hari ini kita berbahagia melihat kelahiran dari startup-startup baru,” ujar Meutya.
Meutya juga mengajak para pegiat startup memaksimalkan potensi Indonesia sebagai salah satu pasar digital terbesar di Asia Pasifik. Dengan jumlah penduduk 278 juta jiwa, lebih dari 230 juta orang atau 80,66 persen penduduk Indonesia telah terhubung dengan internet.
Ia menyampaikan nilai ekonomi digital nasional telah melampaui 80 miliar dolar AS dan diprediksi meningkat menjadi lebih dari 130 miliar dolar AS pada 2025.
“Pertumbuhan ini bukan terjadi secara alami. Ia didorong inovasi teknologi, transformasi sektor tradisional, dan yang paling utama adalah SDM digital Indonesia yang membawa pertumbuhan ekonomi tinggi dan terbesar di kawasan Asia Tenggara,” jelasnya.
Untuk mendorong transformasi tersebut, Menkomdigi menekankan pentingnya lahirnya terobosan baru dari talenta digital dalam negeri agar Indonesia tidak hanya menjadi target pasar, melainkan menjadi pusat inovasi teknologi, khususnya di bidang AI.
Sebagai langkah konkret, Kementerian Komunikasi dan Digital menghadirkan Garuda Spark Innovation Hub. Wadah ini dirancang sebagai ruang kolaborasi antara startup berbasis AI dengan perusahaan teknologi global serta modal ventura (venture capital).
“Kita ingin bergerak dari sekadar digital market (pasar digital) menjadi AI innovation hub di ASEAN,” tegas Meutya.
Pemerintah juga mempererat kerja sama dengan perusahaan teknologi global untuk mempercepat peningkatan keterampilan talenta digital. Salah satu program yang disebut adalah Google for Startups Accelerator, yang menurut Meutya telah meluluskan 63 startup nasional sejak tahun lalu.
Hingga saat ini, ia menyebut terdapat sekitar 2.500 startup aktif di Indonesia yang berkontribusi langsung terhadap ekonomi digital.
“Enam puluh tiga startup nasional yang lulus program ini bukanlah angka yang kecil. Bahkan dilaporkan ada 2.500 startup aktif di Indonesia yang sudah berkontribusi langsung untuk memberikan nilai ekonomi digital. Ini menunjukkan bahwa startup merupakan motor penggerak ekonomi digital nasional,” tutup Meutya.