Dalam pengembangan aplikasi berbasis React, manajemen state menjadi salah satu aspek penting, terutama ketika aplikasi bertambah kompleks. Pada kondisi tertentu, pengelolaan state menggunakan useState atau useContext dinilai tidak lagi memadai. Redux kemudian kerap digunakan sebagai alternatif untuk menghadirkan manajemen state yang lebih terstruktur, terpusat, dan mudah dipelihara.
Redux merupakan library manajemen state yang menerapkan pola predictable state container. Seluruh state aplikasi disimpan dalam satu tempat terpusat yang disebut store. Dalam praktiknya, Redux berpegang pada tiga prinsip utama: single source of truth (state aplikasi disimpan dalam satu objek store), state is read-only (state hanya dapat diubah melalui pengiriman action), serta perubahan state dilakukan oleh reducer yang bersifat pure function.
Penggunaan Redux dinilai tepat ketika aplikasi memiliki banyak komponen yang berbagi state, state sering berubah dan kompleks, dibutuhkan kemampuan debugging yang kuat seperti time-travel debugging, atau ketika tim pengembang memerlukan pola arsitektur yang konsisten. Namun, untuk aplikasi kecil, Redux dapat terasa berlebihan.
Secara arsitektur, Redux terdiri dari tiga komponen utama. Pertama, store sebagai tempat penyimpanan state global aplikasi. Kedua, action, yaitu objek JavaScript yang mendeskripsikan perubahan state, misalnya { type: "ADD_TODO", payload: "Belajar Redux" }. Ketiga, reducer, yakni fungsi yang menerima state dan action, lalu mengembalikan state baru. Contoh sederhananya: const todoReducer = (state = [], action) => { switch (action.type) { case "ADD_TODO": return [...state, action.payload]; default: return state; } };
Alur data pada Redux berjalan satu arah (unidirectional data flow). Komponen melakukan dispatch action, action diteruskan ke reducer, reducer menghasilkan state baru, store menyimpan state tersebut, dan komponen yang berlangganan (subscribe) akan melakukan re-render.
Pada pengembangan React modern, penggunaan Redux Toolkit (RTK) direkomendasikan karena lebih sederhana dan mengurangi boilerplate. Instalasi dilakukan dengan perintah npm install @reduxjs/toolkit react-redux. Implementasi RTK umumnya dimulai dengan membuat slice menggunakan createSlice, lalu membuat store dengan configureStore, menghubungkan store ke React melalui Provider, dan mengakses state di komponen menggunakan useSelector serta mengirim action melalui useDispatch.
Redux Toolkit juga memanfaatkan Immer, sehingga penulisan kode pada reducer dapat terlihat seperti memodifikasi state secara langsung. Selain itu, middleware digunakan untuk menangani proses asinkron seperti pemanggilan API. RTK menyertakan Redux Thunk secara default, dan salah satu pendekatan yang digunakan untuk aksi asinkron adalah createAsyncThunk.
Sejumlah praktik yang disarankan dalam penggunaan Redux antara lain: memakai Redux Toolkit untuk mengurangi boilerplate, memisahkan slice berdasarkan fitur, menghindari penyimpanan state yang tidak perlu di global store, menggunakan selector untuk optimasi performa, serta menerapkan struktur folder berbasis fitur. Contoh struktur yang digunakan adalah memisahkan store di src/app dan fitur di src/features.
Dari sisi kelebihan, Redux menawarkan arsitektur yang terstruktur, kemudahan debugging, dan cocok untuk aplikasi berskala besar. Sementara itu, kekurangannya mencakup potensi boilerplate jika tidak memakai Toolkit, kurva belajar yang relatif tinggi, serta risiko penggunaan yang berlebihan untuk aplikasi kecil.
Dalam perbandingan dengan Context API, Redux disebut lebih sesuai untuk skala aplikasi besar, mendukung middleware, serta memiliki DevTools yang sangat lengkap, meski kompleksitasnya lebih tinggi. Context API, sebaliknya, cenderung digunakan pada aplikasi kecil hingga menengah dengan kompleksitas lebih rendah, namun dukungan middleware dan DevTools lebih terbatas.
Secara umum, Redux diposisikan sebagai solusi manajemen state yang kuat untuk aplikasi React berskala menengah hingga besar. Kehadiran Redux Toolkit membuat penerapannya lebih sederhana dan modern. Meski demikian, pemilihan Redux tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan dan kompleksitas proyek; untuk aplikasi kecil, Context API bisa menjadi opsi yang memadai, sementara untuk kebutuhan skala enterprise, Redux kerap dianggap sebagai pilihan yang solid dan teruji.
Penulis: Dicki Ahmad, S.Kom, Tim Puskom Universitas Komputama (UNIKMA), Cilacap, Jawa Tengah
Editor: Muhamad Ridlo