BERITA TERKINI
Mengapa Setting Pro Video Galaxy S26 Ultra di Konser EXO Jadi Tren: Antara Hasrat Mengabadikan dan Literasi Visual

Mengapa Setting Pro Video Galaxy S26 Ultra di Konser EXO Jadi Tren: Antara Hasrat Mengabadikan dan Literasi Visual

Isu yang Membuatnya Melejit di Google Trends

Di jagat media sosial Indonesia, satu pertanyaan berulang mengalahkan riuh lampu panggung: “Setting apa yang dipakai agar video konser setajam itu?”

Topik pengaturan Pro Video Samsung Galaxy S26 Ultra saat konser EXO mendadak ramai, karena menyentuh kebutuhan yang sangat praktis dan emosional sekaligus.

Orang tidak hanya ingin menonton konser.

Mereka ingin membawa pulang konser, membaginya, dan menghidupkan lagi momen yang cepat berlalu.

Dalam berita ini, KompasTekno menjelaskan bahwa kamera Galaxy S26 Ultra memiliki fitur Pro Video yang memberi kontrol lebih leluasa pada pengguna.

Kontrol itu mencakup ISO, shutter speed, white balance, fokus, hingga sumber mikrofon sesuai kebutuhan.

Fitur tersebut kerap terlihat rumit pada awalnya.

Namun, setelah terbiasa, Pro Video disebut menjadi “senjata” untuk merekam konser.

KompasTekno juga membagikan beberapa pengaturan yang digunakan saat menonton EXO PLANET #6 EXhorizon Jakarta.

-000-

Rinciannya dimulai dari memilih mode Pro Video.

Lalu merekam vertikal 9:16 agar cocok dengan Story, Reels, TikTok, atau Shorts tanpa perlu crop ulang.

Untuk kualitas, dipilih UHD 60 fps agar gerakan terlihat lebih mulus dan detail lebih tajam.

Dan karena posisi cukup jauh dari panggung, dipakai lensa ST atau telephoto 5x.

Di permukaan, ini tampak seperti tutorial kamera.

Di kedalaman, ini adalah cerita tentang cara publik memaknai pengalaman kolektif di era ponsel.

Tiga Alasan Mengapa Isu Ini Menjadi Tren

Alasan pertama adalah kebutuhan yang sangat spesifik dan mudah ditiru.

Konser punya tantangan khas, seperti cahaya panggung berubah cepat, jarak jauh, dan gerakan penampil yang dinamis.

Mode video biasa sering kalah oleh kondisi ekstrem itu.

Ketika ada “resep” yang terlihat berhasil, orang berbondong mencari formula yang sama.

-000-

Alasan kedua adalah format vertikal 9:16 yang selaras dengan budaya platform.

Di Indonesia, video pendek bukan sekadar tren, melainkan bahasa sehari-hari internet.

Ketika sebuah pengaturan langsung mengarah ke kebutuhan unggah, ia terasa relevan seketika.

Orang mencari bukan hanya kualitas, tetapi efisiensi alur kerja.

-000-

Alasan ketiga adalah daya tarik kontrol manual yang memberi rasa kuasa.

Pro Video menawarkan pilihan ISO, shutter speed, white balance, fokus, dan mikrofon.

Di tengah pengalaman konser yang serba cepat, kontrol manual memberi sensasi menaklukkan keterbatasan.

Dan sensasi itu menular.

Ia mendorong diskusi, tanya jawab, dan pembuktian ulang lewat unggahan orang lain.

Di Balik Setting: Hasrat Mengabadikan yang Mengikat Emosi

Konser adalah peristiwa yang hidup dari kebersamaan.

Namun kebersamaan itu kini punya lapisan baru: layar yang menghadap panggung, sekaligus menghadap audiens di rumah.

Fancam menjadi arsip personal yang sekaligus publik.

Ia bukan hanya dokumentasi, tetapi pernyataan: “Aku ada di sana.”

-000-

Dalam konteks itu, ketajaman dan stabilitas video bukan semata urusan teknis.

Ia menjadi jembatan emosi.

Video yang terang dan mulus membantu orang lain merasakan ulang momen, meski dari jarak sosial dan geografis.

Dan bagi perekamnya, itu seperti menyelamatkan detik yang nyaris hilang.

-000-

Ketika KompasTekno menyebut followers sering menanyakan setting, kita membaca satu hal penting.

Ada komunitas yang belajar bersama.

Orang tidak lagi puas dengan “asal merekam.”

Mereka menuntut standar visual baru, bahkan dari ponsel.

Kaitannya dengan Isu Besar di Indonesia: Literasi Digital dan Budaya Kreator

Tren ini terhubung dengan isu besar: literasi digital.

Bukan hanya soal aman di internet, tetapi juga paham cara memproduksi informasi visual yang bertanggung jawab dan berkualitas.

Penguasaan Pro Video adalah bagian dari literasi produksi konten.

-000-

Indonesia sedang memasuki fase ketika kamera ponsel menjadi alat kerja, bukan sekadar alat kenangan.

Di banyak ruang, video vertikal adalah portofolio.

Ia bisa membuka peluang kreatif, komunitas, bahkan karier.

Karena itu, tutorial seperti ini mudah viral.

-000-

Di sisi lain, tren ini juga menegaskan perubahan cara publik memaknai peristiwa budaya.

Konser bukan hanya tontonan, tetapi bahan cerita.

Yang diperebutkan bukan lagi kursi terbaik saja, melainkan sudut terbaik untuk merekam.

Dan perdebatan “setting” menjadi simbol kompetensi baru.

Kerangka Konseptual: Mengapa Kontrol Manual Terasa Penting

Ada penjelasan konseptual yang membantu membaca fenomena ini: kontrol manual mengubah pengguna dari penonton menjadi operator.

Dalam Pro Video, pengguna menentukan ISO, shutter speed, white balance, fokus, dan mikrofon.

Setiap pilihan adalah keputusan kreatif.

-000-

Secara umum, ISO berkaitan dengan sensitivitas cahaya.

Shutter speed berkaitan dengan seberapa lama cahaya masuk, dan memengaruhi motion blur.

White balance membantu menjaga warna tetap natural di bawah lampu panggung yang berubah.

Fokus menentukan subjek tetap tajam saat jarak jauh.

-000-

Frame rate 60 fps, seperti disebut dalam berita, memberi gerak lebih mulus.

Pada konser dengan koreografi cepat, keluwesan gerak menjadi kunci kenyamanan menonton.

Resolusi UHD 4K menambah detail, terutama saat men-zoom atau menonton ulang.

-000-

Format 9:16 juga bukan sekadar preferensi.

Ia adalah adaptasi terhadap ekosistem distribusi.

Ketika platform didesain untuk vertikal, kamera pun mengikuti.

Di sinilah teknologi bertemu kebiasaan, lalu menjadi norma.

Riset yang Relevan: Dari Budaya Ponsel ke Budaya Partisipasi

Fenomena ini dapat dibaca melalui gagasan budaya partisipasi.

Dalam budaya partisipasi, audiens tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga memproduksi dan menyebarkan karya.

Fancam adalah bentuk partisipasi yang sangat nyata.

-000-

Riset tentang budaya partisipasi dan komunitas penggemar sering menekankan kolaborasi informal.

Orang bertukar tips, menguji teknik, lalu menyebarkan pengetahuan.

Pertanyaan setting Pro Video adalah bentuk pertukaran pengetahuan itu.

-000-

Ada juga konsep literasi media yang menyoroti kemampuan memahami dan membuat pesan.

Di era video pendek, membuat pesan berarti memahami cahaya, gerak, warna, dan audio.

Pengaturan ISO, shutter speed, dan white balance adalah “tata bahasa” visual.

-000-

Di Indonesia, diskusi seperti ini penting karena mendorong peningkatan kualitas produksi konten.

Namun, ia juga menuntut kedewasaan.

Semakin tinggi kemampuan merekam, semakin besar tanggung jawab menghormati ruang publik dan pengalaman orang lain.

Perbandingan Luar Negeri: Fenomena Serupa di Konser Global

Di luar negeri, fenomena pencarian setting kamera konser juga kerap muncul.

Komunitas penggemar K-pop, misalnya, dikenal aktif membahas teknik perekaman, lensa, dan stabilisasi.

Diskusi itu menyebar lintas platform dan lintas bahasa.

-000-

Konser artis pop global juga memunculkan budaya “shot list” versi penonton.

Penonton merencanakan kapan merekam, kapan menikmati langsung, dan bagaimana membagi momen di media sosial.

Dalam konteks itu, mode manual di ponsel menjadi alat demokratis.

-000-

Perbandingan ini tidak dimaksudkan untuk menyamakan seluruh konteks.

Namun ia menunjukkan bahwa Indonesia berada dalam arus global yang sama.

Yakni, pergeseran dari dokumentasi pribadi menuju produksi konten yang terstruktur.

Membaca Dampaknya: Antara Kualitas, Komunitas, dan Kewaspadaan

Tren setting Pro Video membawa sisi positif yang jelas.

Ia mendorong orang belajar, bereksperimen, dan lebih peka terhadap detail visual.

Ia juga memperkuat komunitas, karena pertanyaan dibalas dengan pengalaman.

-000-

Namun, ada sisi yang perlu direnungkan.

Ketika semua orang mengejar hasil sempurna, pengalaman langsung bisa tergeser.

Konser berisiko berubah menjadi proyek produksi massal, bukan perjumpaan emosional.

-000-

Di titik ini, berita tentang Pro Video sebenarnya membuka diskusi lebih luas.

Bagaimana menyeimbangkan “mengabadikan” dan “mengalami.”

Bagaimana tetap menghormati penonton lain, tanpa mengorbankan hak berekspresi.

Bagaimana menggunakan teknologi sebagai alat, bukan penguasa.

Rekomendasi: Cara Menanggapi Tren Ini dengan Sehat

Pertama, perlakukan tutorial sebagai titik awal, bukan dogma.

Berita ini menunjukkan pilihan yang digunakan KompasTekno.

Namun tiap konser berbeda, tiap panggung berbeda, dan tiap posisi penonton berbeda.

Eksperimen tetap diperlukan.

-000-

Kedua, tingkatkan literasi visual secara bertahap.

Mulailah memahami fungsi ISO, shutter speed, white balance, fokus, dan mikrofon.

Dengan pemahaman, pengguna tidak sekadar meniru, tetapi mampu menilai kondisi dan mengambil keputusan.

-000-

Ketiga, jaga etika ruang bersama.

Rekam secukupnya, pastikan tidak mengganggu pandangan orang lain, dan sisakan waktu untuk menonton tanpa layar.

Video terbaik kadang bukan yang paling tajam.

Melainkan yang dibuat tanpa mengorbankan pengalaman kolektif.

-000-

Keempat, dorong diskusi publik yang lebih matang.

Jika tren ini terus berkembang, penyelenggara acara, komunitas penggemar, dan media bisa membangun panduan yang menyeimbangkan kreativitas dan kenyamanan.

Bukan untuk membatasi, tetapi untuk merawat ruang budaya.

Penutup: Teknologi dan Momen yang Tak Bisa Diulang

Pada akhirnya, tren ini bukan hanya tentang Galaxy S26 Ultra.

Ini tentang cara manusia modern memegang kenangan di telapak tangan.

Pro Video memberi kontrol, tetapi momen tetap rapuh.

-000-

Konser berakhir, lampu padam, dan kerumunan pulang.

Yang tersisa adalah ingatan, dan beberapa menit rekaman yang dipilih dengan cermat.

Di situlah kita belajar: kualitas teknis penting, tetapi makna ada pada cara kita hadir.

-000-

Seperti kutipan yang kerap disandarkan pada kebijaksanaan sederhana, “Jangan hanya merekam hidup, hiduplah terlebih dahulu.”