Tim peneliti Universitas Sumatera Utara (USU) memenangkan Kompetisi Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek) Perguruan Tinggi 2026 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada Jumat (13/3). Kemenangan tersebut diraih melalui inovasi layanan kesehatan digital bertajuk Medan Health System, yang juga menjadi satu-satunya proposal dari USU yang lolos serta memperoleh pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Tim riset ini beranggotakan tujuh dosen lintas fakultas, yakni Fakultas Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Fakultas Farmasi, serta Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi. Lima anggota merupakan profesor dari bidang kesehatan dan farmasi, sementara dua lainnya berasal dari bidang teknologi informasi.
Tim diketuai Prof. Dr. Reni Asmara Ariga, S.Kp., MARS dari Fakultas Keperawatan. Anggota tim terdiri atas Prof. Dr. Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan, S.Si., M.Si., Apt.; Prof. Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S(K); Prof. Dr. dr. Dewi Masyithah Darlan, DAP&E, MPH, Sp.ParK; Prof. Dr. dr. Rina Amelia, MARS, FISPH, FISCM, Sp.KKLP, Subsp.FOMC; Dr. Amalia, S.T., M.T.; serta Tito Afwi Senda, S.T., M.Kom.
Penelitian berjudul “Medan Health System sebagai Inovasi Layanan Kesehatan Digital Terintegrasi Berbasis Kecerdasan Buatan untuk Deteksi Dini dan Pengendalian Hipertensi Menuju Pemerataan dan Efisiensi Pelayanan Kesehatan Kota Medan yang Maju dan Berkelanjutan” menargetkan penguatan layanan kesehatan primer melalui pengelolaan data dan analisis berbasis teknologi. Program ini dirancang untuk menyediakan sistem pengumpulan data pasien yang terstruktur, analisis risiko berbasis kecerdasan buatan, serta dashboard pemantauan yang dapat dimanfaatkan puskesmas dan Pemerintah Kota Medan sebagai dasar pengambilan keputusan layanan dan kebijakan kesehatan daerah yang lebih efektif dan berbasis bukti.
Dalam pelaksanaannya, program akan bermitra dengan Pemerintah Kota Medan serta lima puskesmas dari total 41 puskesmas di Kota Medan, yakni Puskesmas Amplas, Puskesmas Tuntungan, Puskesmas Padang Bulan, Puskesmas Darussalam, dan Puskesmas Sei Agul.
Riset ini direncanakan berjalan selama 12 bulan dengan tiga tahapan iterasi utama melalui pendekatan living laboratory. Pada iterasi pertama, tim akan mengembangkan modul inti sistem dan menguji fungsi dasar di puskesmas mitra. Iterasi kedua diarahkan pada penyempurnaan sistem sekaligus integrasi ke dalam alur layanan puskesmas. Selanjutnya, iterasi ketiga mencakup finalisasi sistem, validasi kinerja, serta penilaian kesiapan adopsi dan replikasi program pada skala Kota Medan.
Program tersebut diharapkan memberi dampak jangka panjang berupa penurunan risiko komplikasi hipertensi, peningkatan kualitas hidup masyarakat, penguatan kebijakan kesehatan berbasis data, dan efisiensi anggaran kesehatan daerah. Dalam jangka pendek, program ini ditargetkan meningkatkan cakupan deteksi dini, kepatuhan kontrol pasien hipertensi, serta efisiensi kerja tenaga kesehatan melalui pengurangan beban administrasi manual.
Kemenangan tim riset USU ini menegaskan kolaborasi multidisiplin dalam merespons tantangan kesehatan masyarakat. Dengan dukungan pendanaan LPDP dan kerja sama bersama pemerintah daerah, Medan Health System diproyeksikan menjadi model transformasi layanan kesehatan primer berbasis sains dan teknologi yang dapat direplikasi di wilayah lain.