BERITA TERKINI
Mahasiswa UNEJ Kembangkan TurtleSafe dan Soroti Dampak Efisiensi Anggaran pada Penanganan Bencana

Mahasiswa UNEJ Kembangkan TurtleSafe dan Soroti Dampak Efisiensi Anggaran pada Penanganan Bencana

Jember, 30 Januari 2026 — Mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) mengembangkan inovasi dan riset yang menyoroti isu mitigasi bencana serta perlindungan ekosistem. Upaya ini dipimpin Mohammad Arsy Darmawansyah, mahasiswa Fakultas Teknik, bersama timnya yang beranggotakan Muhammad Ridwan Ghani Abhirama, Naura Salma Taqiyya, Adinda Riski Oktasari, dan Sayyidha Rahma Audyna.

Salah satu inovasi yang tengah diintensifkan pengembangannya adalah “TurtleSafe”, alat proteksi telur penyu yang dirancang fleksibel dan adaptif untuk berbagai kondisi pantai di Indonesia. Inovasi ini ditujukan untuk mendukung perlindungan biodiversitas laut.

Selain fokus pada perlindungan ekosistem, tim juga menaruh perhatian pada ancaman bencana hidrometeorologi, khususnya banjir yang dinilai kian menjadi isu krusial di sejumlah wilayah. Menanggapi situasi di Sumatera yang saat ini menghadapi banjir lumpur, Arsy menekankan pentingnya efisiensi anggaran penanggulangan bencana yang tetap berpihak pada kemanusiaan.

“Kami melihat adanya korelasi kuat antara kebijakan fiskal dan kecepatan penanganan di lapangan. Sejalan dengan itu, kami juga melakukan kajian mendalam di Jember mengenai dampak pengerukan gumuk pasir,” ujar Arsy saat ditemui di Kampus Tegalboto, Jumat (30/01/2026).

Riset tim ini sebelumnya telah dipresentasikan dalam forum internasional Asia-Pacific Research Universities (APRU) ke-20 di Filipina pada November 2025. Dalam kesempatan tersebut, mereka memaparkan kajian berjudul “The Impact of Budget Efficiency on Disaster Management and Legal Protection in Indonesia”.

Menurut Arsy, tema yang diangkat memiliki keterkaitan dengan bencana di Sumatera yang terjadi bertepatan dengan waktu presentasi. Ia menilai kebijakan efisiensi anggaran dapat memengaruhi kecepatan dan kualitas penanganan bencana, sehingga berpotensi memperpanjang penderitaan masyarakat. Ia juga menyinggung kondisi banjir besar yang menumpuk lumpur setinggi rumah di Sumatera sebagai gambaran dampak yang dirasakan warga.

Arsy menjelaskan, tim mengangkat topik tersebut dengan mempertimbangkan posisi Indonesia sebagai negara dengan risiko bencana tertinggi ke-2 di dunia setelah Filipina, serta sejumlah faktor lain seperti kerentanan geografis, dilema konstitusional, dan ketergantungan anggaran. Ia menyebut anggaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sangat bergantung pada APBN sehingga rentan terhadap perubahan kebijakan fiskal pusat.

Dalam kajiannya, tim menawarkan beberapa metode untuk menilai dampak pemotongan anggaran kebencanaan dengan mempertimbangkan tingkat kerentanan wilayah. Metode yang digunakan antara lain Cost-Benefit Analysis (CBA), Net Present Value (NPV), dan Value of Statistical Life (VSL).

Arsy menyatakan, relevansi isu yang dibahas serta kemampuan tim dalam memprediksi dampak kebijakan efisiensi anggaran terhadap penanggulangan bencana menjadi salah satu faktor yang memperkuat presentasi mereka. “Kami percaya bahwa salah satu faktor yang membuat kami menonjol adalah kemampuan memprediksi dampak buruk dari kebijakan efisiensi anggaran terhadap penanggulangan bencana, yang kebetulan terjadi saat kami mempresentasikan topik tersebut,” katanya.