Seorang mahasiswa asal Indonesia yang menempuh pendidikan di Iran, Muhammad Jawad (26), membagikan pengalamannya saat mengikuti proses evakuasi warga negara Indonesia (WNI) di tengah meningkatnya ketegangan konflik Iran dan Israel-AS.
Jawad merupakan mahasiswa Al Mustafa International University di Kota Mashhad. Ia mengatakan telah tinggal di Iran sejak 2017 untuk menempuh studi pada jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.
Menurut Jawad, situasi di Mashhad relatif aman selama konflik berlangsung karena wilayah tersebut tidak menjadi sasaran serangan. Ia menyebut Mashhad berjarak sekitar 10 hingga 12 jam perjalanan darat dari ibu kota Iran, Teheran.
Situasi berbeda ia rasakan ketika tiba di Teheran untuk mengikuti proses evakuasi yang difasilitasi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Saat mengikuti pengarahan sebelum keberangkatan di KBRI Teheran, Jawad dan WNI lainnya sempat mendengar suara ledakan yang mengejutkan.
Jawad mengatakan, setelah dilakukan pengecekan, suara tersebut diketahui berasal dari sistem pertahanan udara Iran yang sedang diaktifkan untuk mengantisipasi serangan.
Ia juga menyampaikan bahwa sejak serangan pertama pada 28 Februari 2026, pemerintah Iran sempat memutus akses internet internasional. Sejumlah aplikasi seperti WhatsApp, Telegram, dan Instagram disebut tidak dapat digunakan.
Meski demikian, Jawad menyebut komunikasi antar-WNI tetap dapat berlangsung melalui aplikasi lokal yang tersedia di Iran, termasuk untuk berkoordinasi dengan pihak KBRI.
Beberapa hari setelah serangan, KBRI Teheran mengeluarkan surat edaran bagi WNI yang ingin mengikuti proses evakuasi dengan terlebih dahulu mengisi formulir pendaftaran. Jawad bersama istrinya kemudian berangkat dari Mashhad menuju Teheran menggunakan kereta api dengan waktu tempuh sekitar 10 hingga 12 jam.
Jawad mengatakan perjalanan berjalan lancar dan tidak ada suara ledakan maupun kejadian lain sepanjang perjalanan.
Dalam gelombang pertama proses evakuasi, tercatat sekitar 32 WNI dari berbagai kota di Iran dipulangkan ke Indonesia.