Ahmad Hukam Mujtaba, mahasiswa asal Banyumas, berhasil dievakuasi dari zona perang di Iran. Mahasiswa magister sejarah itu menceritakan pengalamannya saat situasi keamanan di Teheran memburuk akibat serangan.
Hukam mengatakan kondisi berubah drastis ketika serangan mulai menyasar kantor-kantor pemerintahan. Ia mengaku menyaksikan langsung pesawat nirawak atau drone beroperasi di langit ibu kota Iran.
Saat dihubungi tim redaksi pada Rabu (11/3/2026), Hukam juga menuturkan ketegangan meningkat pada awal Maret ketika pemerintah Iran mematikan jaringan internet secara total. Pemutusan akses informasi itu membuat komunikasi para mahasiswa dengan keluarga menjadi sangat terbatas.
Menurutnya, sebelum internet padam, para mahasiswa sempat memberi tahu orang tua mengenai potensi gangguan komunikasi. Di sisi lain, jaringan telepon seluler disebut masih berfungsi, namun tidak dapat digunakan untuk melakukan panggilan internasional.
Dari sekitar 150 mahasiswa Indonesia yang berada di Iran, sebanyak 22 orang memutuskan pulang ke tanah air. Hukam menjelaskan, pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) memberikan pilihan kepada mahasiswa untuk pulang atau tetap bertahan.
Saat ini, Hukam telah berada di Jakarta dan tengah melanjutkan perjalanan pulang menuju Kabupaten Banyumas. Meski sudah dalam kondisi aman, ia masih memiliki sisa satu tahun masa studi magister sejarah peradaban Persia.
Hukam menyebut pihak kampus di Teheran sedang mengkaji skema pembelajaran daring karena situasi darurat. Ia berharap konflik segera mereda agar dapat kembali menyelesaikan program studinya.