Lonjakan kebutuhan memori untuk industri kecerdasan buatan (AI) diperkirakan akan berdampak luas pada pasar elektronik konsumen, termasuk mendorong kenaikan harga smartphone. Sejumlah pelaku industri menilai ketatnya pasokan komponen memori berisiko menekan produsen perangkat dengan margin tipis, bahkan memaksa sebagian menghentikan lini produk.
CEO Phison Electronics, perusahaan semikonduktor asal Taiwan, Pua Khein-Seng, mengatakan permintaan memori seperti NAND Flash untuk kebutuhan AI berpotensi membuat sebagian produsen elektronik kesulitan bertahan. Ia menyebut kekurangan memori dapat menyebabkan banyak vendor sistem menghentikan lini produk atau mengalami kebangkrutan.
NAND Flash merupakan memori non-volatile yang tetap menyimpan data meski perangkat tidak dialiri listrik. Teknologi ini menjadi fondasi penyimpanan modern seperti SSD, kartu memori, dan flash drive.
Tekanan pasokan diperkirakan tidak terjadi dalam waktu singkat. SK Hynix memperkirakan kekurangan pasokan akan berlanjut hingga akhir 2027, mengindikasikan bahwa ketegangan pasokan dapat berlangsung melampaui 2026.
Selain ketersediaan yang menipis, produsen elektronik juga menghadapi persyaratan pengadaan yang semakin ketat. Dalam beberapa kasus, pabrik memori disebut meminta pembayaran tunai di muka hingga tiga tahun bagi produsen yang ingin mengamankan kapasitas produksi. Skema tersebut dinilai berpotensi membebani merek kecil dan menengah yang memiliki ruang finansial terbatas, sehingga berisiko kehilangan akses terhadap komponen penting seperti NAND Flash.
Dampak langsungnya dapat terlihat pada berkurangnya pilihan konfigurasi memori, kenaikan harga produk akhir, hingga penghentian sementara beberapa lini produk tertentu.
Keterbatasan pasokan juga memicu kenaikan harga komponen. Samsung dilaporkan menaikkan harga cip memori sebesar 30% hingga 60% per November 2025. Sementara itu, TrendForce mencatat permintaan kontrak NAND Flash melonjak 60% pada November tahun sebelumnya.
Counterpoint Research memproyeksikan harga memori naik 30% pada kuartal keempat 2025 dan berpotensi naik lagi 20% pada awal 2026. Kondisi ini diperkirakan menekan produksi ponsel pintar, yang disebut dapat berkurang sekitar 200 juta hingga 250 juta unit.
Sejumlah analis memperkirakan kenaikan harga paling berat berpotensi terjadi pada pertengahan 2026, seiring mulai berlakunya kontrak produksi baru. Produsen yang sebelumnya terikat perjanjian jangka panjang, yang dinegosiasikan sebelum terjadi kekurangan pasokan, diperkirakan mulai merasakan lonjakan biaya pada kuartal kedua dan ketiga 2026.
International Data Corporation (IDC) dan Counterpoint Research juga memperingatkan bahwa harga jual rata-rata smartphone berpotensi meningkat signifikan. Direktur Riset Senior IDC Nabila Popal memperkirakan harga jual rata-rata ponsel pintar naik menjadi US$ 465 pada 2026, dibandingkan US$ 457 pada 2025.
Dari sisi produsen, Presiden Xiaomi Lu Weibing menyatakan tekanan biaya produksi smartphone diperkirakan memburuk pada tahun berikutnya. Sementara itu, Kepala Pemasaran Produk Global Realme Francis Wong menilai industri semikonduktor terbiasa menghadapi perubahan harga seiring munculnya teknologi baru, tetapi laju permintaan AI kali ini dinilai melampaui perkiraan.
Menurut Wong, kenaikan harga smartphone pada 2026 terutama dipicu meningkatnya biaya komponen NAND Flash, DRAM, dan SSD—komponen penting untuk penyimpanan dan memori pada perangkat elektronik. DRAM adalah memori volatile yang datanya hilang ketika listrik mati, sedangkan SSD merupakan perangkat penyimpanan berbasis NAND Flash.
Tekanan harga dinilai terjadi karena produsen cip mengalihkan kapasitas dari DRAM dan NAND standar untuk perangkat konsumen ke memori kelas perusahaan seperti High Bandwidth Memory (HBM) yang dibutuhkan pusat data AI. Pergeseran ini membuat pasokan untuk perangkat konsumen semakin ketat. Wong menyebut kondisi tersebut sebagai persoalan industri secara luas yang sulit dihindari oleh merek mana pun.
Situasi juga disebut dipengaruhi faktor lain seperti ketegangan perdagangan, penyesuaian rantai pasokan, serta fluktuasi mata uang. Ketika negara-negara memperketat aturan ekspor teknologi dan mendiversifikasi pusat manufaktur, biaya produksi dapat meningkat bersamaan dengan waktu tunggu yang lebih panjang.