BERITA TERKINI
LG Klaim AI di AC Segmen B2B Mampu Hemat Energi hingga 27 Persen, Ini Cara Kerjanya

LG Klaim AI di AC Segmen B2B Mampu Hemat Energi hingga 27 Persen, Ini Cara Kerjanya

LG Electronics Indonesia (LGEIN) mengklaim telah menyematkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dengan kemampuan deep learning pada unit pendingin ruangan (AC) untuk segmen business-to-business (B2B). Teknologi ini disebut ditujukan untuk mengoptimalkan kenyamanan pengguna sekaligus meningkatkan efisiensi energi.

Department Leader B2B HVAC (Heating, Ventilation, and Air Conditioning) LG Electronics Indonesia, Ronny Ardiyanto, mengatakan kecanggihan AI pada AC LG terletak pada kemampuannya mempelajari dan merespons kondisi lingkungan serta perilaku pengguna secara otomatis.

Menurut Ronny, teknologi AI tersebut disematkan pada unit outdoor (luar ruangan). Ia menjelaskan bahwa kontrol utama AC berada di unit outdoor, yang bertugas mengatur proses pendinginan, kinerja kompresor, serta cara kerja unit secara keseluruhan.

Ronny menyebut meski chip AI berukuran kecil, prosesor ini dirancang kuat untuk menjalankan algoritma dan proses pembelajaran. Dalam pengembangannya, AI pada AC LG berfokus pada pengendalian dua faktor yang menentukan kenyamanan ruangan, yakni suhu (temperature) dan kelembapan (humidity).

Ia menilai kenyamanan tidak sekadar membuat ruangan menjadi dingin. Tujuannya adalah menciptakan kondisi yang “cukup dingin” tanpa membuat penghuni merasa kedinginan atau kepanasan.

Salah satu kemampuan utama AI ini adalah melakukan sensing atau penginderaan terhadap kondisi di dalam dan di luar ruangan. AI akan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk jumlah orang di dalam ruangan yang dapat memengaruhi peningkatan kalori dan suhu, serta kondisi cuaca di luar ruangan seperti hujan atau suhu yang menurun.

Ronny memberi contoh, pada AC konvensional, proses pendinginan bisa terus berjalan meski suhu luar menurun karena hujan, sehingga penghuni ruangan berpotensi merasa terlalu dingin. Sementara dengan teknologi AI, algoritma bekerja melalui sensing ganda: mendeteksi suhu di dalam ruangan dan mempertimbangkan kondisi cuaca di luar untuk melakukan penyesuaian otomatis.

Jika cuaca di luar lebih dingin, Ronny mengatakan AI dapat menaikkan pengaturan suhu AC ke tingkat yang dinilai ideal dan nyaman bagi pengguna.

Selain adaptasi berbasis kondisi lingkungan, AI pada AC LG juga dibekali kemampuan deep learning. Dalam jangka waktu tertentu—rata-rata hingga dua bulan—AI disebut akan mempelajari dan mencatat kebiasaan pengguna, termasuk rata-rata jumlah orang dalam ruangan, suhu ideal yang kerap dipilih untuk aktivitas tertentu, serta pola penggunaan seperti hari libur atau saat ruangan kosong.

Setelah pola perilaku terbaca, AI diklaim akan membentuk algoritma sendiri. Dengan demikian, pengguna cukup menyalakan AC dan perangkat akan menyesuaikan pengaturan berdasarkan kebiasaan pada ruangan tersebut tanpa perlu melakukan pengaturan berulang.

Dari sisi efisiensi energi, LGEIN menyatakan telah bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk menguji keandalan teknologi AC berbasis AI ini. Berdasarkan implementasi AI, Ronny mengklaim penghematan energi dapat meningkat rata-rata 24 persen hingga 27 persen.

Ia juga menyebut kecepatan AC dalam menyesuaikan suhu menuju kondisi ideal menjadi 28,5 persen lebih cepat dibanding AC konvensional. Fitur pintar lainnya yang disampaikan adalah kemampuan AC untuk mati otomatis setelah mendeteksi ruangan kosong, sebagai bagian dari upaya penghematan energi.

Teknologi ini diterapkan pada lini Multi-V LG, dengan fokus utama pada kenyamanan pengguna agar tidak merasa kedinginan maupun kepanasan.