JAKARTA — Perkembangan startup di Indonesia pada 2026 terus menunjukkan pertumbuhan signifikan seiring ekspansi ekonomi digital nasional. Kondisi ini mendorong semakin banyak generasi muda membangun bisnis berbasis teknologi. Di tengah momentum tersebut, muncul pertanyaan mengenai seberapa besar peran kampus dalam menyiapkan calon pendiri (founder) startup masa depan.
Pertumbuhan startup nasional disebut didorong tingginya penetrasi internet serta perubahan perilaku masyarakat menuju ekosistem digital. Sejumlah sektor, seperti fintech, edutech, healthtech, hingga e-commerce, dinilai menjadi ruang subur bagi lahirnya inovasi baru, termasuk dari kalangan mahasiswa.
Menanggapi fenomena itu, Kepala Kampus Universitas Nusa Mandiri (UNM) Kampus Jatiwaringin, Bryan Givan, menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam membentuk jiwa kewirausahaan mahasiswa. “Kampus tidak boleh hanya mencetak pencari kerja, tetapi juga harus mampu mencetak pencipta lapangan kerja. Di sinilah peran penting pendidikan dalam dunia startup,” ujarnya dalam rilis yang diterima, Rabu (8/4).
Bryan menilai pembelajaran bisnis di perguruan tinggi perlu melampaui teori dan lebih berorientasi pada pengalaman. “Belajar bisnis tidak cukup dari buku. Mahasiswa harus diberi ruang untuk mencoba, gagal, dan belajar langsung dari pengalaman,” katanya.
Ia menyebut UNM sebagai Kampus Digital Bisnis terus memperkuat ekosistem kewirausahaan melalui pembelajaran berbasis praktik yang mendorong mahasiswa mengembangkan ide startup sejak dini. Lingkungan akademik, menurutnya, dirancang untuk mendukung inovasi, kolaborasi, dan eksperimen bisnis secara langsung.
Meski demikian, membangun startup disebut tidak lepas dari tantangan. Keterbatasan pengalaman, minimnya akses mentor, serta ekosistem bisnis yang belum kuat masih menjadi hambatan utama yang kerap dihadapi mahasiswa.
Karena itu, Bryan menilai kampus perlu hadir sebagai penghubung dalam pembangunan ekosistem startup. “Kampus harus menyediakan lingkungan yang mendukung, mulai dari inkubasi bisnis, kolaborasi industri, hingga akses ke mentor. Ini yang akan mempercepat lahirnya startup dari kalangan mahasiswa,” ujarnya.
Selain dukungan ekosistem, ia juga menekankan pentingnya keberanian dalam membangun startup. “Banyak ide bagus, tetapi tidak semua berani mengeksekusi. Kampus harus mendorong mahasiswa untuk berani mencoba dan mengambil risiko,” katanya.
Di tengah ledakan dunia startup pada 2026, Bryan menilai keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh ide, tetapi juga kesiapan, keberanian, dan dukungan ekosistem yang tepat. Dalam konteks itu, kampus dipandang memegang peran strategis sebagai tempat lahirnya founder startup masa depan.