BERITA TERKINI
Kuliah Sambil Kerja di Era Digital 2026 Makin Realistis, Ini Tantangan dan Kuncinya

Kuliah Sambil Kerja di Era Digital 2026 Makin Realistis, Ini Tantangan dan Kuncinya

JAKARTA — Di tengah naiknya biaya hidup dan tuntutan kemandirian finansial, semakin banyak mahasiswa mempertimbangkan untuk kuliah sambil bekerja. Pertanyaan yang kerap muncul, apakah pilihan tersebut masih realistis di era digital 2026 yang bergerak cepat dan kompetitif.

Fenomena kuliah sambil kerja bukan hal baru. Namun, perkembangan teknologi membuat peluangnya kian terbuka, terutama melalui pola kerja yang lebih fleksibel seperti freelance, kerja jarak jauh (remote), hingga merintis bisnis digital yang dapat dijalankan dari berbagai tempat.

Kepala Kampus Universitas Nusa Mandiri (UNM) Kampus Jatiwaringin, Bryan Givan, menilai perubahan pola kerja menjadi kesempatan besar bagi mahasiswa untuk berkembang lebih cepat dibanding generasi sebelumnya. “Dulu kuliah sambil kerja identik dengan keterbatasan. Sekarang justru menjadi keunggulan. Mahasiswa bisa mendapatkan pengalaman kerja sekaligus membangun portofolio sejak dini,” ujarnya, Kamis (23/4).

Menurutnya, tren pekerja muda yang menggabungkan pendidikan dan pekerjaan terus meningkat. Di sisi lain, banyak perusahaan mulai membuka peluang bagi mahasiswa untuk magang atau bekerja paruh waktu, termasuk secara remote. Hal ini sejalan dengan kebutuhan industri yang tidak hanya menuntut kemampuan teoritis, tetapi juga pengalaman praktis.

Meski peluangnya meluas, tantangan kuliah sambil bekerja tetap ada. Manajemen waktu menjadi faktor penentu. Tanpa pengelolaan yang baik, mahasiswa berisiko mengalami penurunan performa akademik maupun produktivitas kerja.

Bryan menekankan, keberhasilan menjalani dua peran tidak hanya bergantung pada individu, tetapi juga pada dukungan sistem pendidikan yang lebih fleksibel. “Kampus harus mampu beradaptasi dengan kebutuhan mahasiswa saat ini. Sistem pembelajaran yang fleksibel, relevan dengan industri, dan didukung teknologi menjadi faktor penting agar mahasiswa bisa menjalani kuliah sambil kerja secara optimal,” katanya.

Seiring pesatnya pertumbuhan ekonomi digital, ragam peluang kerja baru juga bermunculan. Profesi seperti content creator, digital marketer, hingga pengembang aplikasi menjadi pilihan yang banyak dilirik mahasiswa. Bahkan, sebagian mahasiswa mulai merintis usaha sejak masih kuliah.

Situasi ini memperlihatkan batas antara dunia pendidikan dan dunia kerja semakin menipis. Mahasiswa tidak selalu harus menunggu lulus untuk memulai karier, karena kesempatan membangun pengalaman dan portofolio dapat dimulai lebih awal dengan memanfaatkan peluang yang ada.

Dalam konteks ini, UNM menyatakan menghadirkan konsep pembelajaran yang mendukung mahasiswa berkembang secara akademik sekaligus profesional, melalui kurikulum yang selaras dengan kebutuhan industri serta peluang magang.

Bryan juga menyoroti pentingnya pola pikir dan tujuan yang jelas bagi mahasiswa yang ingin menjalani kuliah sambil kerja. “Kalau tujuannya jelas, mahasiswa akan lebih mudah mengatur prioritas. Kuliah dan kerja bukan untuk saling mengganggu, tetapi saling melengkapi dalam membangun masa depan,” ujarnya.

Selain strategi pribadi, dukungan lingkungan turut berperan, baik dari kampus, keluarga, maupun tempat kerja. Kesamaan pemahaman dari berbagai pihak dinilai dapat membantu mahasiswa menjalani kedua peran secara lebih optimal.

Dengan peluang kerja yang semakin beragam di era digital, kuliah sambil kerja dinilai bukan lagi sekadar wacana. Dengan pengelolaan waktu yang tepat, dukungan sistem pembelajaran yang adaptif, serta lingkungan yang kondusif, mahasiswa berpeluang memperoleh nilai tambah sekaligus menyiapkan diri menghadapi persaingan dunia kerja.