BERITA TERKINI
Konflik Iran-AS Picu Kekhawatiran Pasokan Chip, Harga Gadget Berisiko Naik

Konflik Iran-AS Picu Kekhawatiran Pasokan Chip, Harga Gadget Berisiko Naik

Konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu kekhawatiran baru bagi industri teknologi global, terutama sektor semikonduktor. Ketegangan tersebut dinilai berpotensi mengganggu rantai pasokan bahan baku dan mendorong kenaikan biaya energi, yang pada akhirnya bisa berdampak pada harga perangkat elektronik seperti smartphone, laptop, dan tablet.

Korea Selatan, salah satu pemain utama industri semikonduktor dunia, turut meningkatkan kewaspadaan. Negara ini menjadi basis sejumlah perusahaan besar pemasok chip untuk berbagai perangkat elektronik global. Karena itu, perubahan pada pasokan bahan baku atau biaya produksi dapat langsung memengaruhi industri teknologi di negara tersebut.

Kekhawatiran itu disampaikan Kim Young-bae, anggota parlemen dari partai berkuasa di Korea Selatan. Ia menilai konflik yang berkepanjangan berisiko mengganggu pasokan bahan baku penting dari kawasan Timur Tengah serta memicu lonjakan harga energi, yang dapat meningkatkan biaya produksi chip.

Menurut Kim, dampak konflik berpotensi merembet ke rencana ekspansi industri, termasuk pembangunan pusat data yang tengah digenjot seiring meningkatnya kebutuhan komputasi untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI). “Kita mengatakan bahwa siklus super semikonduktor telah tiba, tetapi rencana pembangunan pusat data sangat mungkin terganggu dan berpotensi menimbulkan masalah pada permintaan chip,” kata Kim dalam konferensi pers, Kamis (5/3), seperti dikutip Reuters.

Pernyataan itu disampaikan setelah Kim bertemu dengan sejumlah eksekutif perusahaan teknologi besar dan kelompok bisnis terkait industri, termasuk perwakilan dari Samsung Electronics yang dikenal sebagai produsen chip memori terbesar di dunia. Diskusi tersebut menyimpulkan bahwa situasi geopolitik saat ini dapat memengaruhi keseimbangan pasar chip global.

Selain faktor energi, industri semikonduktor juga menyoroti risiko gangguan pasokan bahan tertentu, salah satunya helium. Gas ini berperan penting dalam proses produksi chip, termasuk membantu pengelolaan panas selama pembuatan semikonduktor. Para pelaku industri menilai hingga kini belum ada alternatif yang benar-benar dapat menggantikan fungsi helium dalam skala produksi modern, sehingga potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah menjadi perhatian utama.

Kondisi geopolitik ini muncul ketika industri teknologi masih menghadapi tekanan dari krisis chip global. Dalam beberapa tahun terakhir, lonjakan permintaan dipicu oleh perkembangan AI, komputasi awan, dan perangkat pintar. Chip memori seperti RAM termasuk komponen yang mengalami tekanan permintaan tinggi, sehingga harga komponen sempat merangkak naik dan mulai memengaruhi biaya produksi perangkat, termasuk smartphone.

Meski dampaknya belum sepenuhnya terasa, sejumlah analis memperkirakan kenaikan harga smartphone dapat terjadi dalam beberapa bulan ke depan seiring berlanjutnya tekanan biaya. Lembaga riset pasar International Data Corporation (IDC) juga memprediksi pasar smartphone global akan menyusut 12,9% pada 2026, dipengaruhi melemahnya permintaan konsumen serta meningkatnya biaya produksi.

Dalam situasi seperti ini, produsen perangkat berpotensi menyesuaikan strategi. Salah satu langkah yang disebut mulai terlihat adalah penyesuaian spesifikasi pada beberapa model agar harga tetap terjangkau, serta pengurangan produksi model entry-level yang dinilai kurang menguntungkan. Di sisi lain, perusahaan cenderung mendorong pasar ke perangkat kelas menengah dan premium yang memiliki margin lebih besar.

Direktur Riset Senior IDC, Nabila Popal, menilai perubahan ini bisa menjadi titik balik bagi industri smartphone global. Menurutnya, bahkan setelah krisis chip mereda, struktur pasar kemungkinan tidak kembali seperti sebelumnya dan harga jual rata-rata perangkat dapat bertahan pada level yang lebih tinggi dibanding masa sebelum krisis.

Sejumlah analis juga memperkirakan dampak tekanan pasokan dan perubahan pasar bisa berlangsung hingga 2027. Namun, di tengah tantangan tersebut, beberapa perusahaan mulai mencari cara meningkatkan efisiensi, termasuk mengembangkan desain chip yang lebih hemat energi dan lebih efisien dalam penggunaan material. Sejumlah negara juga meningkatkan investasi produksi semikonduktor domestik untuk mengurangi ketergantungan pada rantai pasokan global.

Rangkaian perkembangan ini menegaskan eratnya keterkaitan geopolitik, teknologi, dan ekonomi. Gangguan yang terjadi jauh dari pusat industri dapat berpengaruh hingga ke harga perangkat yang digunakan masyarakat sehari-hari. Jika konflik berlanjut dan pasokan bahan baku semakin terbatas, risiko kenaikan harga gadget dalam beberapa tahun ke depan dinilai semakin besar.