BERITA TERKINI
Komdigi: Startup Indonesia Masih Terkendala Pendanaan, Ketimpangan Ekosistem, dan Rendahnya Inovasi

Komdigi: Startup Indonesia Masih Terkendala Pendanaan, Ketimpangan Ekosistem, dan Rendahnya Inovasi

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat perkembangan startup di Indonesia dalam lima tahun terakhir masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kendala modal hingga rendahnya tingkat inovasi. Catatan tersebut tertuang dalam dokumen Rencana Strategi (Renstra) Komdigi 2025–2029.

Dalam dokumen itu, Komdigi menilai startup digital memiliki peran penting dalam memperkuat pertumbuhan ekonomi digital nasional. Melalui inovasi dan solusi berbasis teknologi, startup dinilai dapat mendorong transformasi berbagai sektor sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan digital.

Komdigi juga menyoroti pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang terus meningkat. Mengacu pada laporan e-Conomy SEA 2023, nilai ekonomi digital Indonesia mencapai US$82 miliar atau sekitar Rp1.283 triliun pada 2023, dan diproyeksikan terus meningkat hingga 2030. Meski demikian, dokumen tersebut mencatat sebagian besar aktivitas ekonomi digital masih dikuasai pemain asing, sementara kontribusi pelaku lokal belum tumbuh signifikan.

Ekosistem dinilai belum berkembang optimal

Komdigi mencatat startup menjadi salah satu motor penggerak ekonomi digital dengan kontribusi sekitar 4% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Secara global, Indonesia berada di peringkat ke-36 dari 119 negara dalam Global Startup Ecosystem Index 2024. Namun, perkembangan ekosistem startup dinilai belum merata dan belum menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.

Tingkat kesuksesan startup Indonesia disebut hanya berkisar 1–5%. Lebih dari 57% startup masih terpusat di kota-kota besar di Pulau Jawa, seperti Jabodetabek, Bandung, dan Malang. Selain itu, 48,1% startup masih berskala mikro dengan keterbatasan infrastruktur, sumber daya manusia (SDM) terampil, serta minimnya koneksi ke inkubator atau industri pendukung.

Komdigi menilai kondisi tersebut menunjukkan jumlah startup yang terus bertambah belum diikuti pemerataan distribusi dan daya saing, terutama antara wilayah perkotaan dan daerah di luar Jawa.

Akses pendanaan menjadi hambatan besar

Kesulitan memperoleh pendanaan disebut menjadi salah satu tantangan terbesar. Sebanyak 34,1% startup di Indonesia mengaku mengalami kendala dalam modal usaha.

Meski total investasi ke Indonesia meningkat dari tahun ke tahun, nilai pendanaan untuk startup justru menurun tajam. Pada 2022, nilai investasi ke sektor startup tercatat turun dari US$11,35 miliar menjadi US$3,69 miliar.

Komdigi menilai penurunan tersebut dipengaruhi kehati-hatian investor yang menilai kualitas sebagian besar startup Indonesia belum memenuhi ekspektasi dan standar global. Dalam dokumen itu, Komdigi juga menyebut potensi investasi melalui angel investor di Indonesia sebenarnya besar, namun belum dimanfaatkan secara optimal, salah satunya karena minimnya kesadaran dan pendekatan terhadap calon investor.

Inovasi dan dukungan riset dinilai masih terbatas

Dalam catatan lima tahun terakhir, Komdigi menilai sebagian besar startup di Indonesia belum mampu menghasilkan inovasi yang berdampak luas. Salah satu penyebabnya, sekitar 32,7% startup masih bergerak di sektor general atau bidang yang terlalu umum, sehingga dinilai sulit menciptakan keunggulan kompetitif.

Keterbatasan fasilitas riset dan pengembangan juga menjadi masalah. Indonesia disebut memiliki sekitar 166 creative hub dan 14 lembaga inkubator tersertifikasi dari total 389 inkubator yang ada, dengan konsentrasi terbesar di Jakarta, Bandung, dan Bali. Kondisi ini dinilai mempersempit ruang inovasi, terutama bagi startup di luar Jawa.

Komdigi turut menyoroti keterbatasan talenta digital. Sebanyak 90% perusahaan di Indonesia disebut mengakui tenaga kerja digital belum mampu memenuhi kebutuhan industri, sementara 52% mengalami kesulitan menemukan pekerja dengan keterampilan yang sesuai. Founder dan talenta teknis juga dinilai masih kurang memiliki mindset global serta lambat beradaptasi dengan perkembangan teknologi baru.

Strategi Komdigi dalam Renstra 2025–2029

Untuk merespons tantangan tersebut, Komdigi menyiapkan strategi pembenahan melalui rencana pembangunan ekonomi digital lima tahun ke depan. Kebijakan ini bertujuan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8% pada 2045 dengan fokus penguatan industri digital, termasuk startup, gim, kecerdasan buatan (AI), dan teknologi baru.

Dalam Renstra 2025–2029, Komdigi merumuskan langkah penguatan ekosistem startup digital nasional, antara lain melalui peningkatan keberlanjutan bisnis, pelatihan bagi pendiri (founder), serta perluasan pengembangan startup di luar Pulau Jawa. Pemerintah juga berencana memperkuat peran inkubator dan komunitas startup serta membuka akses pendanaan yang lebih merata di seluruh wilayah.

Selain itu, Komdigi menargetkan optimalisasi inovasi dan pengembangan teknologi dengan memperluas jaringan innovation hub di berbagai daerah untuk mempercepat pertumbuhan startup berbasis teknologi.