Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyiapkan strategi untuk menjaga daya tarik investasi di sektor teknologi digital di tengah tekanan global yang dikenal sebagai tech winter. Melalui pendekatan bertajuk 6C, Komdigi menargetkan penguatan fondasi ekosistem digital nasional sekaligus merespons tren penurunan investasi pada startup.
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi Edwin Hidayat menyatakan pemerintah tetap membuka peluang seluas-luasnya bagi investor, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Menurutnya, keterbukaan ini menjadi sinyal bahwa Indonesia masih dinilai sebagai pasar yang menjanjikan, meski sebagian investor global saat ini cenderung bersikap menunggu.
Strategi 6C yang disiapkan Komdigi mencakup Connectivity, Capital, Competence Talent, Commerce, Compliance, dan Catalysis. Enam elemen tersebut dirancang untuk membangun ekosistem digital yang tidak hanya menarik investasi, tetapi juga berkelanjutan dalam jangka panjang.
Di sisi lain, Komdigi menilai perlambatan investasi startup tidak semata dipengaruhi faktor global. Sejumlah persoalan internal juga disebut menjadi penghambat, seperti kemampuan manajerial pendiri startup yang masih lemah, inovasi yang belum sepenuhnya menjawab kebutuhan pasar, serta tantangan membangun tim yang solid.
Untuk mengatasi kendala tersebut, pemerintah menyiapkan pendampingan manajemen dan operasional bagi startup agar lebih siap menghadapi dinamika bisnis. Komdigi juga menyiapkan Startup Maturity Index sebagai indikator untuk mengukur kesiapan startup dalam menarik pendanaan eksternal.
Selain itu, Komdigi berencana meluncurkan inisiatif Digital Ecosystem Alignment (DEAL) dalam waktu dekat. Program ini ditujukan untuk mempertemukan startup, investor, dan pemerintah dalam ekosistem yang lebih terintegrasi, sehingga proses pendanaan dinilai dapat berjalan lebih efektif.
Tantangan global lainnya datang dari gangguan rantai pasok semikonduktor yang menjadi penopang industri teknologi. Menyikapi situasi tersebut, Komdigi mengambil pendekatan yang disebut realistis dengan tidak memaksakan Indonesia bersaing langsung dalam produksi chip canggih seperti negara-negara besar.
Sebagai alternatif, pemerintah mendorong pemanfaatan keunggulan domestik, terutama kekayaan logam tanah jarang (rare earth), untuk masuk ke dalam rantai pasok semikonduktor global. Langkah ini dipandang strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di industri teknologi tanpa menanggung beban investasi yang sangat besar.
Komdigi juga menempatkan pengembangan energi terbarukan sebagai prioritas. Sumber energi seperti panas bumi, biofuel, dan tenaga surya dinilai penting untuk menopang kebutuhan pusat data dan infrastruktur digital yang terus berkembang.
Dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI), Komdigi mendorong pendekatan yang lebih terarah. Alih-alih membangun model bahasa besar yang membutuhkan biaya tinggi, Indonesia diarahkan untuk fokus pada pengembangan solusi AI yang spesifik dan relevan dengan kebutuhan lokal.
Pendekatan tersebut disebut sejalan dengan prinsip agnostik teknologi yang diusung pemerintah, yakni tidak bergantung pada satu teknologi atau pihak tertentu. Diversifikasi diposisikan sebagai kunci agar Indonesia tetap adaptif menghadapi perubahan global sekaligus menjaga kepentingan nasional.
Dengan kombinasi strategi itu, Komdigi menyatakan optimistis ekosistem digital Indonesia dapat terus tumbuh dan kompetitif meski tekanan global belum sepenuhnya mereda.