Jakarta — Tren klaim penyakit menunjukkan peningkatan sepanjang 2023. Berbagai penyakit seperti gangguan sindrom metabolik—di antaranya penyakit jantung, stroke, diabetes—serta kanker, banyak ditemui pada pasien. Kondisi ini dikaitkan dengan gaya hidup tidak sehat yang dapat memicu berkembangnya penyakit kritis tertentu, selain faktor genetik.
Sejumlah kebiasaan yang kerap disebut berkontribusi antara lain stres akibat kesibukan, kurang tidur, tidak memperhatikan asupan makanan, hingga konsumsi makanan cepat saji yang berlebihan.
Penyakit kritis mendominasi penyebab kematian dan beban biaya
Merujuk data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), angka kejadian penyakit kritis di Indonesia disebut terus meningkat. Daftar 10 penyakit yang menyebabkan kematian tertinggi di Indonesia juga ditempati deretan penyakit yang dikategorikan kritis, seperti stroke, penyakit jantung, diabetes, tuberkulosis (TBC), sirosis hati, paru-paru kronis, diare, hipertensi, infeksi saluran pernapasan, dan neonatal.
Selain itu, data BPJS Kesehatan tahun ini menyebutkan terdapat delapan penyakit yang menghabiskan biaya hingga puluhan triliun rupiah, yakni jantung, kanker, stroke, gagal ginjal, hemofilia, thalassemia, leukemia, dan sirosis hati.
Kementerian Kesehatan RI juga menyatakan penyakit kritis yang termasuk kategori penyakit tidak menular (PTM) masih menjadi tantangan di Indonesia, dengan angka yang terus meningkat sejak 2010.
Gaya hidup dan faktor risiko
Sejumlah faktor yang disebut berperan antara lain pola makan tinggi kalori, rendah serat, tinggi garam, tinggi gula, dan tinggi lemak. Kondisi tersebut kerap diperburuk oleh gaya hidup sedentary, kebiasaan memilih junk food atau makanan siap saji, kurang aktivitas fisik, stres, serta kurang istirahat.
Munculnya penyakit baru menambah kekhawatiran
Di tengah tantangan penyakit kritis, dunia juga masih dihadapkan pada kemunculan penyakit baru yang menarik perhatian publik. Penyakit semacam ini disebut emerging infectious disease (EIDs), yang dikhawatirkan dapat menjadi persoalan kesehatan masyarakat dan berpotensi menyebabkan kematian dalam jumlah besar.
Disebutkan pula bahwa penyakit baru dapat muncul tiap tahun dan berpotensi menjadi penyakit kritis. Secara global, WHO mengkategorikan permasalahan kesehatan mencapai 68.000 jenis, dengan 6.172 di antaranya merupakan penyakit langka.
Klaim penyakit kritis meningkat menurut tren perusahaan asuransi
Berdasarkan tren klaim Generali Indonesia, klaim penyakit kritis pada 2023 meningkat 32,35% dari sisi jumlah kasus dan 34,16% dari sisi nominal klaim.
Beberapa jenis penyakit kritis dengan kasus terbanyak meliputi kanker payudara, gagal ginjal kronis, sumbatan pembuluh darah jantung dan serangan jantung, serta stroke.
Penyakit kritis umumnya memerlukan perawatan intensif, jangka panjang, dan biaya yang tidak sedikit.
Perdebatan relevansi produk proteksi penyakit kritis
Dalam konteks pembiayaan, studi biaya kanker di wilayah ASEAN mengungkapkan adanya insiden keuangan pada pasien kanker setelah 12 bulan, ketika pengeluaran perawatan kesehatan telah melebihi 30% dari pendapatan rumah tangga. Kondisi ini membuat proteksi terhadap penyakit kritis menjadi aspek yang dinilai penting untuk diperhatikan.
Namun, sebagian produk asuransi di pasaran disebut masih berfokus pada jumlah penyakit kritis tertentu. Di sisi lain, daftar penyakit dan kategorinya dapat berubah serta bertambah seiring waktu, mengikuti perkembangan penyakit dan dunia medis.
Situasi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai relevansi proteksi penyakit kritis yang banyak beredar saat ini, termasuk risiko ketika seseorang terdiagnosis penyakit kritis tetapi tidak dapat mengajukan klaim karena penyakit tersebut tidak tercantum dalam polis.
Sejumlah pandangan menilai pembaruan produk asuransi penyakit kritis perlu selaras dengan perkembangan penyakit dan kemajuan medis agar tetap sesuai kebutuhan masyarakat. Salah satu gagasan yang mengemuka adalah proteksi yang berfokus pada sistem organ, sehingga perlindungan lebih luas dapat diberikan tanpa semata mengacu pada daftar penyakit tertentu.
- Tren klaim penyakit kritis pada 2023 menunjukkan peningkatan, baik dari jumlah kasus maupun nominal klaim.
- Penyakit tidak menular seperti jantung, stroke, diabetes, dan kanker tetap menjadi tantangan besar.
- Munculnya penyakit baru dan dinamika kategori penyakit memunculkan diskusi tentang pembaruan skema proteksi.
Pada akhirnya, semakin luas dan lengkap proteksi yang dimiliki, semakin besar peluang masyarakat untuk lebih fokus pada proses penyembuhan tanpa terbebani kekhawatiran terkait biaya perawatan.