Di era digital, gadget menjadi perangkat yang melekat dalam keseharian mahasiswa, mulai dari mengerjakan tugas, mengakses jurnal ilmiah, hingga mengikuti perkuliahan daring. Teknologi dinilai membantu proses belajar, namun penggunaan yang tidak terkontrol disebut dapat menggerus fokus dan kedisiplinan akademik.
Ketua Lembaga Penjaminan dan Pengembangan Pembelajaran (LPPP) Universitas Nusa Mandiri (UNM), Nurmalasari, menyoroti semakin kaburnya batas antara kebutuhan akademik dan hiburan. Notifikasi media sosial, konten video yang terus mengalir, hingga gim daring kerap memotong waktu belajar. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat mahasiswa mudah terdistraksi, menunda tugas, dan mengalami penurunan konsentrasi.
Ia menilai persoalan penggunaan gadget tidak sekadar kebiasaan, melainkan tantangan serius di pendidikan tinggi. Di ruang kelas, mahasiswa sering hadir secara fisik tetapi perhatiannya teralihkan ke layar, sehingga diskusi kurang hidup, interaksi melemah, dan pemahaman materi menurun.
Nurmalasari menegaskan teknologi bukan pihak yang patut disalahkan. Menurutnya, masalah utama terletak pada cara penggunaan gadget. Ia juga mengingatkan bahwa pandemi pada 2020 mempercepat adopsi pembelajaran digital. Kebiasaan menatap layar yang semula bersifat darurat, kini menjadi lebih permanen, sementara tidak semua mahasiswa siap mengelola batasan penggunaan perangkat.
Dalam pandangannya, budaya “selalu online” terbawa hingga ke ruang kelas dan perpustakaan. Di sisi lain, algoritma media sosial dirancang untuk membuat pengguna bertahan lebih lama. Tanpa kesadaran dan kontrol diri, mahasiswa terdorong untuk terus menggulir layar tanpa tujuan. Dampaknya, tidak hanya pada nilai akademik, tetapi juga pada pola pikir, seperti melemahnya kemampuan berpikir mendalam, mudah terganggunya konsentrasi, dan berkurangnya kebiasaan belajar mandiri.
Sebagai kampus yang mendorong pemanfaatan teknologi, UNM disebut tidak mungkin menjauh dari perangkat digital. Namun, Nurmalasari menekankan bahwa literasi digital tidak cukup hanya soal kemampuan menggunakan perangkat, melainkan juga mencakup etika, disiplin, dan pengendalian diri dalam mengakses informasi.
Ia menilai solusi yang diperlukan bukan menjauhi gadget, melainkan membangun disiplin digital. Mahasiswa didorong untuk memisahkan waktu belajar dan hiburan, mematikan notifikasi saat kuliah, serta menggunakan gadget sesuai kebutuhan akademik. Di saat yang sama, kampus diharapkan menghadirkan sistem pembelajaran yang mendorong interaksi aktif dan kolaboratif, serta tidak sepenuhnya bergantung pada layar.
Menurut Nurmalasari, tantangan terbesar saat ini bukan kurangnya akses teknologi, melainkan kemampuan mengendalikan diri. Ia mengajak mahasiswa merefleksikan kembali cara menggunakan perangkat digital agar teknologi menjadi jembatan menuju prestasi, bukan jebakan yang menjauhkan dari tujuan akademik.
“Kendalikan gadget kalian hari ini. Gunakan secara sadar. Fokus pada tujuan,” tulisnya.