Jakarta — Jumlah perangkat gawai atau telepon seluler yang beredar di Indonesia dilaporkan melampaui jumlah penduduk. Data yang disampaikan dalam kegiatan Webinar Bijak Bermedia Sosial menunjukkan kepemilikan gadget/handphone di Indonesia mencapai 125,6 persen atau sekitar 345,3 juta unit.
Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika, Rosaritas Niken Widiastuti, mengatakan tingginya angka tersebut sejalan dengan intensitas masyarakat Indonesia dalam menggunakan internet dan media sosial. Ia menyebut jumlah penduduk Indonesia saat ini hampir 275 juta jiwa, dengan lebih dari 200 juta di antaranya aktif melakukan aktivitas di media sosial.
Menurut Niken, kepemilikan ponsel yang melebihi jumlah penduduk mengindikasikan banyak orang memiliki lebih dari satu perangkat. Ia juga menyampaikan pengguna internet di Indonesia tercatat lebih dari 73,7 persen. Adapun masyarakat yang aktif menggunakan media sosial disebut mencapai 61,8 persen atau sekitar 170 juta orang.
Niken menilai konektivitas internet telah menjadi bagian dari keseharian, dari bangun tidur hingga kembali tidur. Dalam rentang waktu itu, masyarakat kerap memantau notifikasi maupun mencari informasi melalui internet.
Namun, ia mengingatkan adanya sejumlah ancaman atau dampak negatif di media sosial, antara lain gangguan internet, perjudian, pornografi, pencurian data, perundungan, hingga kecenderungan mengabaikan orang di sekitar. Karena itu, ia meminta masyarakat lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial dan tidak mudah mempercayai informasi yang diterima.
Ia juga menyoroti maraknya informasi palsu serta konten terkait radikalisme yang dinilai berbahaya bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Niken menambahkan, penyebaran informasi bohong memiliki konsekuensi hukum berupa ancaman pidana enam tahun penjara dan denda hingga Rp1 miliar, serta ditegaskan berlaku tanpa memandang latar belakang pelaku.
Selain itu, Niken mengingatkan bahwa risiko penyalahgunaan media sosial tidak terbatas pada kelompok usia tertentu, baik muda maupun tua, laki-laki maupun perempuan, serta dari berbagai tingkat pendidikan. Ia pun menekankan pentingnya bersikap bijak karena rekam jejak digital akan selalu ada dan dapat berpengaruh, termasuk saat seseorang mencari pekerjaan di masa depan.