Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Arif Satria menegaskan penguatan riset dan inovasi nasional tidak dapat dipisahkan dari pembangunan human capital serta keberanian negara meningkatkan pendanaan riset secara signifikan. Pernyataan itu disampaikan dalam talkshow bersama para pemenang Riset dan Inovasi Indonesia Maju (RIIM) Awards di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, Gedung BJ Habibie, Jakarta, Kamis (19/12).
Arif menyebut jumlah periset Indonesia saat ini masih kurang dari 300 orang per satu juta penduduk. Ia menilai angka tersebut tertinggal dibanding sejumlah negara di Asia. Korea Selatan, misalnya, disebut memiliki lebih dari 4.000 periset per satu juta penduduk, sementara Malaysia dan Thailand juga berada jauh di atas Indonesia.
Menurut Arif, penguatan riset dan inovasi membutuhkan perhatian pada kualitas dan kuantitas sumber daya manusia. Ia menilai aspek tersebut sekaligus mencerminkan minat dan komitmen masyarakat terhadap dunia riset.
Untuk menggambarkan pentingnya investasi sumber daya manusia, Arif mencontohkan perusahaan teknologi Huawei yang memiliki sekitar 200 ribu pegawai, dengan 54% di antaranya merupakan peneliti dan pengembang riset dan pengembangan (R&D). Dengan komposisi itu, lebih dari 108 ribu pegawai Huawei disebut berperan sebagai periset. Arif menilai angka tersebut menunjukkan besarnya investasi SDM untuk menopang daya saing inovasi.
Ia menambahkan, Indonesia perlu menyiapkan talenta-talenta terbaik agar riset nasional semakin kuat. BRIN, kata Arif, telah memiliki sejumlah instrumen untuk mendorong lahirnya talenta baru, termasuk skema insentif bagi mahasiswa. Namun, ia menekankan pentingnya kehadiran role model periset yang dapat menginspirasi melalui karya nyata.
Arif menyebut Presiden ke-3 RI BJ Habibie sebagai contoh figur inspiratif yang memberi teladan melalui karya strategis, terutama di industri pesawat terbang. Ia menilai Indonesia perlu mencetak lebih banyak sosok serupa agar generasi berikutnya tertarik menjadi periset.
Arif juga memaparkan bahwa kemajuan riset ditopang lima faktor utama, yakni infrastruktur, human capital, pendanaan, tema riset, dan ekosistem. Karena itu, BRIN bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi berfokus membangun ekosistem riset melalui kolaborasi dengan sektor swasta, kementerian/lembaga, serta pemerintah daerah.
Selain itu, Arif menyoroti pentingnya dampak nyata riset bagi masyarakat dan ekonomi. Ia menyebut sejumlah inovasi hasil kolaborasi riset BRIN telah menunjukkan hasil konkret, mulai dari pengembangan madu bernilai tambah, rumah ramah lingkungan, hingga teknologi strategis seperti pesawat N219 yang tengah disiapkan menjadi seaplane untuk meningkatkan konektivitas antar pulau.
Arif mengatakan peneliti Indonesia kini telah mampu menghasilkan satelit, kapal, pesawat terbang, varietas unggul, dan berbagai inovasi lain. Ia menegaskan capaian tersebut perlu terus didorong agar riset benar-benar berdampak.
Ke depan, BRIN berencana menerapkan pendekatan riset top-down dengan menetapkan tema-tema strategis serta memberikan dukungan pendanaan yang lebih besar. Langkah itu ditujukan agar hasil riset memiliki dampak langsung dan berskala luas, sejalan dengan upaya meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.