BERITA TERKINI
Kemkomdigi Siapkan Garuda Spark untuk Perkuat Ekosistem Startup di Tengah Tekanan Industri Digital

Kemkomdigi Siapkan Garuda Spark untuk Perkuat Ekosistem Startup di Tengah Tekanan Industri Digital

Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menyiapkan Garuda Spark sebagai strategi untuk memulihkan kepercayaan dan memperkuat daya tahan ekosistem startup nasional di tengah tekanan yang dihadapi industri digital. Program ini mulai dijalankan di Bandung dan dalam tiga bulan pertama operasionalnya diarahkan menjadi hub kolaborasi yang konkret, bukan sekadar ruang inkubasi.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan tantangan industri startup saat ini berbeda dibanding masa awal pertumbuhannya. Menurutnya, Garuda Spark berupaya mempertemukan berbagai pihak dalam satu ekosistem agar startup tidak menghadapi situasi sulit sendirian. “Industri startup berbeda memang dari ketika baru dilahirkan dengan sekarang yang sudah penuh tantangan. Jadi bagaimana menghadapi tantangan ini bersama itulah yang dicoba dilakukan oleh Garuda Spark dengan cara membuat satu ekosistem, di dalamnya bertemu para startup, investor, pemerintah, dan lain-lain,” ujar Meutya di Bandung, Senin.

Meutya menyampaikan, sejak diluncurkan pada 27 September 2025, Garuda Spark Bandung telah mengurasi dan mendampingi 10 startup baru, dengan sebagian di antaranya sudah diluncurkan ke publik. Ia menekankan penguatan kepercayaan sebagai dorongan awal program tersebut. “Yang kami dorong pertama adalah confidence level. Garuda Spark hadir untuk memastikan startup tidak berjalan sendiri,” katanya.

Berbeda dari pendekatan inkubasi konvensional, Garuda Spark dirancang sebagai ekosistem terbuka yang mempertemukan startup, investor, akademisi, komunitas, serta pemerintah dalam satu ruang kolaboratif. Pemerintah, menurut Meutya, tidak mengambil alih peran kreatif para pelaku startup, melainkan hadir untuk memperkuat fondasi kepercayaan dan kesinambungan.

Bandung dipilih sebagai percontohan nasional karena dinilai memiliki modal kreativitas, talenta, dan ekosistem yang relatif matang dibanding daerah lain. Keberhasilan Bandung diharapkan menjadi inspirasi bagi wilayah lain, termasuk di luar Pulau Jawa. Meutya juga menyinggung situasi industri startup pada 2025 yang dinilai tidak mudah di tingkat ASEAN, termasuk Indonesia. “Reportase-reportase yang dibuat mengatakan bahwa tahun 2025 tidak mudah untuk startup se-ASEAN, dan Indonesia juga tidak terkecuali, tapi kita harus bangkit bersama-sama, karena ke depan juga belum tentu lebih mudah, kita ingin membangun kebangkitan yang lebih sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ke depan, Garuda Spark diposisikan sebagai bagian dari strategi nasional transformasi digital “3T lanjutan”: terhubung, tumbuh, dan terjaga. Dalam kerangka ini, startup ditempatkan sebagai motor utama pada aspek “tumbuh” agar ruang digital diisi oleh inovasi produktif, bukan sekadar konsumsi atau aktivitas negatif.

Meutya menegaskan Garuda Spark bukan proyek jangka pendek. Ia menyatakan peran negara tidak hanya sebagai regulator, melainkan mitra strategis bagi startup dalam menghadapi era digital yang semakin kompleks dan kompetitif. “Ke depan itu pemerintah harus hadir bersama dengan teman-teman startup tanah air untuk bangkit,” katanya.

Setelah diluncurkan di Bandung, Garuda Spark juga hadir di Jakarta sebagai pusat kolaborasi antara pemerintah, swasta, startup, investor, dan komunitas digital. Kemkomdigi menyatakan program ini akan diperluas ke sejumlah daerah lain. Pemerintah menargetkan 12 juta talenta digital nasional pada 2030, meningkat dari target sebelumnya 9 juta. Dari jumlah tersebut, Garuda Spark Innovation Hub diharapkan menyumbang tambahan 4 juta penerima manfaat yang terdiri atas talenta digital dan teknopreneur.