Pemerintah mendorong keluarga mengambil peran lebih besar dalam membangun karakter anak sekaligus mencegah dampak negatif penggunaan gawai yang berlebihan. Upaya ini salah satunya dilakukan melalui Safari Penguatan Karakter: #SatuJamBerkualitas Bersama Keluarga yang mengajak orang tua meluangkan waktu minimal satu jam setiap hari untuk berinteraksi aktif dengan anak.
Kegiatan tersebut digelar di Tangerang Selatan, Banten, pada Selasa (10/3/2026). Program ini menjadi bagian dari kampanye penguatan karakter anak melalui kolaborasi keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Masmidah Abdul Mu’ti, menekankan bahwa pembentukan karakter anak tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Menurutnya, keterlibatan aktif keluarga menjadi kunci agar anak tumbuh dengan nilai-nilai positif sejak dini. Ia menyampaikan bahwa melalui Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, pemerintah ingin membangun generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter kuat.
Gerakan tersebut mendorong penerapan tujuh kebiasaan baik dalam keseharian anak, yakni bangun pagi, beribadah, berolahraga, gemar belajar, aktif bermasyarakat, makan sehat dan bergizi, serta tidur tepat waktu.
Selain itu, Kemendikdasmen mengampanyekan gerakan #SatuJamBerkualitas Bersama Keluarga, yaitu ajakan kepada orang tua untuk menyediakan waktu khusus setiap hari melalui aktivitas sederhana seperti berbincang, membaca cerita, atau bermain bersama. Masmidah menyebut momen kebersamaan ini dapat memperkuat hubungan emosional antara orang tua dan anak. Ia menyampaikan hal tersebut di hadapan murid dan orang tua yang mengikuti kegiatan serentak di tiga wilayah, yakni Banten, Sulawesi Tengah, dan Kepulauan Bangka Belitung.
Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikdasmen, Rusprita Putri Utami, menjelaskan program ini merupakan respons atas meningkatnya penggunaan gawai dan internet di kalangan anak dan remaja. Ia memaparkan sejumlah data yang menunjukkan tingginya ketergantungan digital, antara lain sekitar 31,4 persen remaja di Jakarta mengalami kecanduan internet, tujuh dari 10 remaja putri kecanduan media sosial, serta sembilan dari 10 remaja putra kecanduan gim daring.
Rusprita menilai kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kesehatan fisik, kesehatan mental, serta kualitas interaksi sosial anak jika tidak diimbangi aktivitas positif di lingkungan keluarga. Karena itu, ia menekankan pentingnya orang tua menghadirkan aktivitas bermakna di rumah agar anak dapat mengisi waktu dengan kegiatan edukatif sekaligus menyenangkan.
Dalam Safari Penguatan Karakter, anak-anak mengikuti berbagai aktivitas edukatif yang dirancang secara partisipatif. Kegiatan melibatkan komunitas seperti Kampung Dongeng Indonesia untuk sesi mendongeng interaktif. Selain itu, peserta juga mengikuti pemutaran film pendek produksi Pusat Penguatan Karakter berjudul Benih Kejujuran, pagelaran dongeng bertema Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dengan cerita “Tabib Kesayangan Raja”, permainan edukasi berbasis kearifan lokal, hingga refleksi literasi melalui penulisan esai bagi siswa sekolah dasar.
Melalui pendekatan tersebut, Kemendikdasmen berharap nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan empati dapat ditanamkan secara menyenangkan sekaligus mempererat komunikasi antara orang tua dan anak. Program Safari Penguatan Karakter juga diharapkan memperluas praktik baik penguatan karakter berbasis keluarga di berbagai daerah, sehingga terbentuk ekosistem pendidikan yang saling mendukung antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan media.