BERITA TERKINI
Kemdiktisaintek Dorong Industrialisasi Berbasis Sains dan Teknologi untuk Perkuat Ekonomi

Kemdiktisaintek Dorong Industrialisasi Berbasis Sains dan Teknologi untuk Perkuat Ekonomi

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memperkuat peran perguruan tinggi serta ekosistem riset nasional untuk mendorong transformasi industri di Indonesia. Upaya ini ditujukan agar hasil riset tidak berhenti di lingkungan akademik, melainkan dapat mendorong inovasi dan pertumbuhan ekonomi berbasis teknologi.

Penguatan kolaborasi antara dunia akademik, industri, dan lembaga kebijakan menjadi strategi utama untuk mempercepat hilirisasi riset. Integrasi sains, teknologi, dan kebutuhan pasar diharapkan mampu melahirkan industri baru yang kompetitif sekaligus berkelanjutan.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menekankan pentingnya industrialisasi yang tidak berjalan secara biasa. “Kita harus berani menguji dan mendorong kemajuan yang tidak linear melalui penguatan industri berbasis sains dan teknologi. Industrialisasi tidak boleh berjalan biasa saja, karena potensinya bisa tumbuh secara eksponensial,” kata Brian pada Kamis, 5 Maret 2026.

Menurut Brian, industrialisasi berbasis sains dan teknologi menjadi kunci strategis bagi Indonesia untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah. Ia menilai tanpa lompatan inovasi, pertumbuhan industri berisiko stagnan dan sulit bersaing di tingkat global.

Ia juga menegaskan transformasi ekonomi membutuhkan pendekatan yang berani dan inovatif. Karena itu, kebijakan pembangunan industri dinilai perlu diarahkan pada penguatan riset, teknologi, serta pengembangan sumber daya manusia. “Jika kita ingin benar-benar lepas dari berbagai keterbatasan struktural. Maka lompatan yang kita lakukan juga harus bersifat tidak linear,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Brian menyoroti tantangan klasik ekosistem riset nasional yang kerap disebut sebagai valley of death, yakni kesenjangan antara hasil riset di perguruan tinggi dan tahap komersialisasi di sektor industri. Ia menilai masih banyak produk riset yang belum mampu bertahan hingga memasuki tahap industrialisasi.

Kondisi tersebut, menurutnya, menunjukkan pentingnya memperhitungkan aspek keekonomian sejak tahap awal pengembangan inovasi. Kajian ekonomi, kata Brian, seharusnya dilakukan sejak proses penelitian dimulai, bukan setelah produk selesai dikembangkan, agar hasil riset memiliki peluang lebih besar menjadi produk industri yang bernilai ekonomi.

Menanggapi hal itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida Budiman menyampaikan bahwa Bank Indonesia Institute memiliki peran dalam mendukung riset yang relevan dengan kebijakan ekonomi nasional. Ia mengatakan lembaganya membuka peluang kolaborasi riset dengan berbagai pihak, termasuk Kemdiktisaintek, untuk memperkuat basis kebijakan berbasis bukti.

“Kami memiliki berbagai peluang riset. Baik yang dilakukan bersama Kemdiktisaintek maupun riset tren, yang dapat digunakan sebagai dasar rekomendasi kebijakan dan inovasi ekonomi,” ucap Aida.

Kolaborasi Kemdiktisaintek dan BI Institute diharapkan memperkuat relevansi riset nasional terhadap kebutuhan pembangunan ekonomi, sekaligus mempercepat hilirisasi inovasi di berbagai bidang strategis melalui sinergi lintas sektor.

Selain itu, pemerintah juga berupaya mendorong mekanisme yang dapat menarik partisipasi industri untuk mendanai serta memanfaatkan hasil riset perguruan tinggi. Melalui kolaborasi strategis antara akademisi, pemerintah, dan sektor industri, Kemdiktisaintek menyatakan optimistis sains dan teknologi dapat menjadi motor transformasi ekonomi nasional ke depan.