BERITA TERKINI
Kajian Ramadan Unipdu Jombang Soroti Relasi Keluarga di Era Gadget

Kajian Ramadan Unipdu Jombang Soroti Relasi Keluarga di Era Gadget

JombangBanget.id – Pusat Studi Qur’an Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang menggelar Kajian Ramadan pada Kamis (26/2) dengan tema “Relasi Keluarga di Era Gadget: Membangun Kedekatan Nyata di Tengah Kedekatan Virtual”. Kegiatan ini menyoroti tantangan keluarga ketika anak semakin dekat dengan gawai dan media sosial.

Wakil Rektor Unipdu Bidang Keuangan dan SDM, Hj Uswatun Qoyyimah SS Med PhD, yang menjadi pemateri, menekankan pentingnya membangun kedekatan nyata di tengah intensitas hubungan virtual. Ia menyebut keluarga tetap menjadi fondasi utama untuk menjaga nilai, moral, dan identitas generasi di era digital.

Menurutnya, komunikasi yang sehat dan sikap saling menghargai antaranggota keluarga perlu dibangun secara konsisten. Ia juga menegaskan orang tua tidak cukup hanya menetapkan aturan, melainkan perlu membangun dialog terbuka dengan anak.

Dalam kajian tersebut, ia menyampaikan bahwa peran orang tua kian besar di era digital, namun kemampuan parenting setiap orang tua tidak selalu sama. Karena itu, ia menilai literasi dan pembelajaran yang dilakukan secara terus-menerus menjadi hal penting.

Tantangan keluarga, kata dia, semakin kompleks karena anak tumbuh dalam lingkungan yang lekat dengan gadget dan media sosial. Akses digital yang terbuka memberi ruang ekspresi lebih luas bagi anak. Kondisi ini membuat orang tua dituntut meningkatkan literasi digital agar mampu mendampingi sekaligus mengontrol aktivitas anak di ruang digital, termasuk dari sisi etika dan nilai.

Ia juga menyinggung tujuan sosial keluarga yang tidak hanya membangun rumah tangga, tetapi turut membangun masyarakat. Dalam pemaparannya, ia mengutip Surat At-Tahrim ayat 6 mengenai tanggung jawab menjaga keluarga dari api neraka, yang ia maknai sebagai upaya menjaga anggota keluarga dari kemaksiatan melalui penanaman nilai kepada seluruh anggota keluarga.

Ia menjelaskan, setiap keluarga memiliki nilai yang berbeda dan hal itu berpengaruh terhadap karakter anak. Bagi calon pendidik, pemahaman ini penting karena mereka akan berhadapan dengan siswa dari latar belakang keluarga yang membawa nilai beragam.

Selain sebagai tempat penanaman nilai, keluarga juga disebut berfungsi sebagai dukungan emosional. Orang tua berperan memberikan rasa aman dan nyaman, sekaligus menjadi “moral correction” atau pengingat ketika anggota keluarga melakukan kesalahan.

Lebih jauh, ia menilai keluarga menjadi tempat konstruksi identitas. Identitas seseorang—misalnya sebagai akademisi, sebagai ibu, sebagai orang Indonesia, maupun sebagai muslim—dibentuk dari lingkungan keluarga.

Dalam aspek ekonomi, keluarga juga dipandang sebagai unit yang saling melengkapi. Peran ayah sebagai pencari nafkah dan ibu sebagai pendukung disebut memengaruhi pola relasi dalam rumah tangga.