BERITA TERKINI
Jiwa Kirana, Startup Kreatif dari Magelang yang Mengangkat Tradisi Lokal ke Ruang Digital

Jiwa Kirana, Startup Kreatif dari Magelang yang Mengangkat Tradisi Lokal ke Ruang Digital

MAGELANG — Di tengah era ketika algoritma ikut menentukan konten yang muncul di hadapan publik, budaya lokal kerap kehilangan ruang. Cerita tentang tradisi, kearifan, dan identitas daerah perlahan meredup, tersisih oleh konten instan yang cepat viral. Fenomena ini kerap disebut sebagai “senyapnya narasi”, yakni kondisi ketika warisan budaya tetap ada, tetapi tidak lagi terdengar.

Dari kegelisahan tersebut, lahirlah Jiwa Kirana, sebuah startup kreatif berbasis di Magelang. Inisiatif ini didirikan oleh dua pelajar SMA Taruna Nusantara, Jesseinia Salmaa dan Shahira Nazifa Uzma, dengan gagasan menjadikan budaya lokal sebagai aset digital bernilai.

Jiwa Kirana tidak hanya mendokumentasikan tradisi, melainkan mengemas ulang narasi lokal menjadi konten visual. Bentuknya beragam, mulai dari film pendek, dokumenter, hingga storytelling sinematik. Melalui pendekatan itu, tradisi diposisikan bukan sebagai artefak statis, melainkan pengalaman yang hidup dan relevan bagi penonton.

Dengan visi “Cahyaning Budaya Magelang ing Jagad Digital”, Jiwa Kirana menargetkan agar budaya tidak sekadar bertahan, tetapi juga memiliki ruang tampil di panggung digital yang lebih luas. Magelang dipilih sebagai basis operasional karena wilayah ini memiliki kekayaan budaya, termasuk keberadaan Candi Borobudur dan Candi Pawon. Namun, di luar ikon-ikon besar tersebut, masih banyak cerita lokal yang dinilai belum terangkat, seperti kehidupan perajin, tradisi desa, hingga praktik budaya yang hidup di masyarakat.

Melihat celah itu, Jiwa Kirana memilih mengangkat cerita-cerita yang selama ini luput dari perhatian publik. Mereka menekankan transformasi narasi dengan pendekatan sinematografi modern yang dinilai lebih dekat dengan selera generasi muda. Setiap karya dirancang bukan hanya untuk ditonton, tetapi juga untuk menghadirkan pemahaman yang lebih emosional terhadap makna budaya.

Selain produksi konten, Jiwa Kirana juga mendorong dampak ekonomi melalui kolaborasi dengan pelaku UMKM dan perajin lokal. Konten visual yang kuat dan narasi yang dibangun secara emosional disebut dapat meningkatkan nilai jual produk serta memperkuat daya saingnya di pasar digital. Di sisi lain, karya-karya tersebut juga diharapkan mendorong minat wisata, dari audiens yang awalnya menonton secara daring hingga akhirnya datang langsung ke lokasi.

Dalam perjalanannya, Jesseinia dan Shahira tidak hanya berperan sebagai kreator, tetapi juga sebagai kurator budaya, termasuk menentukan cerita yang diangkat dan cara penyampaiannya. Mereka melibatkan seniman, komunitas, serta generasi muda dalam ekosistem kolaboratif, sehingga inisiatif ini diposisikan sebagai gerakan kolektif, bukan semata-mata startup.

Salah satu tantangan dalam mengangkat budaya adalah menjaga keaslian di tengah tuntutan modernisasi. Jiwa Kirana berupaya menjawabnya dengan pendekatan visual yang estetik tanpa mengorbankan nilai budaya. Tradisi tetap menjadi inti, sementara teknologi digunakan sebagai medium penguat jangkauan.

Melalui kerja-kerja kreatif tersebut, Jiwa Kirana menegaskan bahwa budaya tidak harus kalah oleh digitalisasi. Bagi mereka, teknologi justru dapat menjadi alat untuk memperluas jangkauan tradisi, sejalan dengan semangat yang mereka bawa: tidak hanya melestarikan, tetapi juga menciptakan sejarah baru.