BERITA TERKINI
Jelang Pembatasan Medsos untuk Anak di Bawah 16 Tahun, Menteri Minta Keluarga Manfaatkan Libur Lebaran untuk Kurangi Gadget

Jelang Pembatasan Medsos untuk Anak di Bawah 16 Tahun, Menteri Minta Keluarga Manfaatkan Libur Lebaran untuk Kurangi Gadget

Menjelang pemberlakuan aturan pembatasan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun pada 28 Maret 2026, orangtua mulai didorong menyiapkan anak menghadapi perubahan tersebut. Momentum libur Lebaran dinilai dapat menjadi waktu yang tepat untuk membiasakan anak beraktivitas tanpa ketergantungan pada gadget.

Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat perlindungan anak di ruang digital. Regulasi tersebut merupakan turunan dari Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP Tunas.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menekankan peran keluarga dalam membantu anak beradaptasi. Ia menilai masa libur Lebaran dapat menjadi kesempatan untuk membangun komunikasi yang lebih intensif melalui waktu berkualitas bersama.

“Gunakan momen liburan dan mudik ini untuk sebanyak-banyaknya menghabiskan waktu bersama keluarga. Gadget-nya bisa dimatikan dulu atau setidaknya dikurangi,” ujar Meutya Hafid di Jakarta Pusat, Rabu (11/3/2026).

Libur Lebaran yang identik dengan berkumpul bersama keluarga besar, menurutnya, dapat dimanfaatkan orangtua untuk menghadirkan lebih banyak aktivitas yang melibatkan interaksi langsung dengan anak. Selain mengobrol dan berbagi cerita, keluarga juga dapat membuat kegiatan sederhana yang mempererat hubungan, sehingga anak terbiasa menikmati kebersamaan tanpa terus melihat layar.

Meutya mengingatkan, aturan pembatasan tersebut akan berlaku efektif pada 28 Maret 2026. Karena itu, orangtua disarankan mulai melatih anak mengurangi penggunaan media sosial secara bertahap.

“Untuk anak-anak di bawah 16 tahun, kita juga sedang menuju implementasi kebijakan yang akan efektif pada 28 Maret nanti. Sejak sekarang mungkin bisa mulai berlatih perlahan-lahan keluar dari media sosial dengan bimbingan orangtua,” kata Meutya.

Ia menilai perubahan kebiasaan menggunakan teknologi tidak dapat terjadi secara instan. Kesiapan keluarga menjadi kunci agar anak memahami alasan di balik aturan tersebut. Meutya juga menekankan pentingnya literasi digital dalam keluarga, sehingga orangtua dapat membimbing anak agar lebih bijak saat menggunakan teknologi.