Aktivitas digital sehari-hari—mulai dari menggulir media sosial, menonton serial secara maraton, hingga bermain gim daring—meninggalkan jejak karbon digital. Emisi ini tidak tampak seperti asap kendaraan, tetapi muncul dari energi yang dibutuhkan untuk menjalankan perangkat, mengirim data lewat jaringan, dan memprosesnya di pusat data.
Jejak karbon digital pada dasarnya berasal dari tiga komponen utama yang bekerja di balik layar: perangkat yang digunakan, jaringan transmisi data, dan pusat data. Ketiganya memerlukan pasokan listrik dalam jumlah besar dan pada akhirnya menghasilkan emisi karbon.
Perangkat: emisi sejak produksi hingga pemakaian
Kontribusi emisi dimulai sejak perangkat dibuat. Produksi satu unit smartphone disebut dapat menghasilkan sekitar 60 kg CO2e, setara emisi mobil yang menempuh perjalanan 320 kilometer. Setelah digunakan, perangkat juga terus mengonsumsi listrik untuk tetap menyala, terutama saat streaming, bermain gim daring, atau melakukan panggilan video. Konsumsi energi bervariasi, dari sekitar 30 watt untuk desktop biasa hingga 500 watt untuk komputer gaming.
Jaringan transmisi: infrastruktur yang selalu menyala
Data dari satu perangkat ke perangkat lain dikirim melalui jaringan transmisi yang ditopang berbagai infrastruktur, seperti router Wi-Fi, menara seluler, dan kabel optik. Semua membutuhkan listrik secara terus-menerus. International Energy Agency (IEA) mencatat jaringan transmisi data global mengonsumsi sekitar 260–340 TWh pada 2022. Jaringan seluler menyumbang sekitar dua pertiga dari total penggunaan energi tersebut, yakni sekitar 156–238 TWh.
Pusat data: mesin digital yang bekerja tanpa henti
Aktivitas digital pada akhirnya diproses dan disimpan di pusat data. Server dan perangkat penyimpanan bekerja 24 jam, sehingga memerlukan energi besar. Selain untuk menjalankan mesin, pusat data juga membutuhkan listrik untuk sistem pendingin, yang porsinya dapat mencapai sekitar 40% dari total konsumsi listrik tahunan sebuah pusat data.
IEA memperkirakan kebutuhan listrik pusat data global dapat meningkat tajam seiring kemajuan teknologi dan meluasnya adopsi kecerdasan buatan (AI). Pada 2022, konsumsi listrik pusat data global diperkirakan sekitar 460 TWh dan berpotensi melonjak menjadi lebih dari 1.000 TWh pada 2026.
Indonesia: konsumsi data tinggi di tengah dominasi batu bara
Indonesia termasuk negara dengan jumlah pengguna internet terbesar. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024 mencatat 221,5 juta pengguna internet, dengan Gen Z menjadi kelompok terbesar (34,4%).
Aktivitas daring di Indonesia juga tercatat sangat intensif. Pengguna internet Indonesia disebut menjadi yang terlama menghabiskan waktu di TikTok, rata-rata 38 jam 26 menit per bulan. Indonesia juga menempati peringkat kedua global dalam hal bermain gim (95,3% dari pengguna internet), dan 42,2% di antaranya menghabiskan waktu lebih dari empat jam setiap hari.
Di sisi lain, konsumsi digital yang tinggi ini masih ditopang oleh pasokan listrik yang banyak bergantung pada batu bara. Pada 2023, bauran energi baru terbarukan (EBT) Indonesia baru mencapai 13,09%, masih jauh dari target 23% pada 2025. Kondisi ini membuat konsumsi data berisiko berujung pada jejak karbon digital per kapita yang tinggi.
Menuju digital yang lebih hijau: peran individu, perusahaan, dan pemerintah
Transisi menuju ekosistem digital yang lebih berkelanjutan membutuhkan aksi di berbagai level. Dari sisi individu, langkah-langkah yang disebut dapat dilakukan antara lain mengurangi aktivitas digital yang tidak perlu, melakukan digital decluttering dengan menghapus file dan data yang tidak dibutuhkan, serta membersihkan email lama. Dalam konteks ini, disebutkan satu email dengan lampiran dapat menghasilkan 50 gram CO2e. Pengguna juga didorong untuk memakai dan merawat perangkat lebih lama guna menekan “karbon tersembunyi” dari proses produksi.
Dari sisi perusahaan, inovasi hijau dinilai penting, termasuk pembangunan pusat data yang menggunakan energi terbarukan. Di Indonesia, disebutkan DCI Indonesia telah meluncurkan pusat data bertenaga panel surya sebagai salah satu contoh langkah ke arah tersebut.
Sementara itu, pada level pemerintah, kebijakan yang mendorong pengurangan jejak karbon digital dan percepatan transisi energi dinilai menjadi kunci. Dalam lanskap ini, Generasi Z dan milenial—sebagai demografi digital terbesar—dipandang memiliki peran strategis, baik melalui aksi pribadi maupun suara kolektif untuk mendorong akuntabilitas industri dan kebijakan publik menuju masa depan digital yang lebih hijau.