BERITA TERKINI
ITB Terapkan Smart Trash IoT di TPS Pasar Sadang Serang Bandung untuk Pantau Volume Sampah Real-Time

ITB Terapkan Smart Trash IoT di TPS Pasar Sadang Serang Bandung untuk Pantau Volume Sampah Real-Time

Institut Teknologi Bandung (ITB) melanjutkan inovasi pemantauan sampah berbasis teknologi melalui program Pengabdian Masyarakat skema Top-Down DPMK ITB Tahun 2025. Pada Jumat, 21 November 2025, tim yang dipimpin Augie Widyotriatmo, S.T., M.T., Ph.D., meresmikan penggunaan Smart Trash IoT di TPS Pasar Sadang Serang, Kota Bandung. Lokasi ini menjadi penerapan tahap kedua setelah implementasi awal di TPS Tamansari pada 2024.

Program tersebut menghadirkan pemantauan volume sampah secara real-time agar proses pengangkutan dan pengelolaan di TPS dapat dilakukan lebih cepat, efisien, dan berbasis data. Augie menjelaskan, TPS Pasar Sadang Serang dipilih karena berada dalam kecamatan yang sama dengan lokasi implementasi sebelumnya, sehingga memudahkan penyusunan kumpulan data yang terukur untuk melihat dinamika produksi sampah dalam satu wilayah.

Menurutnya, volume sampah di Kota Bandung meningkat sangat cepat sehingga TPS kerap kembali penuh tak lama setelah dikosongkan. Kondisi itu menuntut sistem yang dapat memberikan informasi lebih aktual dibanding metode pemantauan konvensional.

Augie menekankan pentingnya data real-time untuk mendukung pengambilan keputusan, termasuk penyesuaian armada pengangkut, jadwal pengangkutan, serta evaluasi pola pembuangan sampah. Smart Trash IoT juga dilengkapi fitur Geographical Information System (GIS) yang memungkinkan petugas dan masyarakat melihat lokasi TPS beserta tingkat kapasitasnya secara visual. Dengan informasi tersebut, potensi penumpukan sampah dapat diantisipasi lebih awal dan operasional pengangkutan dapat diatur lebih efisien.

Secara teknis, Smart Trash IoT memadukan sensor ultrasonik dan modul kamera ESP32. Sensor digunakan untuk mengukur ketinggian tumpukan sampah, sementara kamera menangkap kondisi visual bak TPS. Data kemudian dikirim otomatis ke server dan ditampilkan melalui aplikasi mobile maupun dashboard web.

Aplikasi menampilkan indikator warna untuk status TPS, grafik perubahan volume sampah, foto kondisi terkini, serta notifikasi ketika kapasitas mendekati penuh. Dengan fitur real-time tersebut, pemantauan TPS dapat dilakukan dari berbagai lokasi dan waktu.

Perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung menilai sistem ini menjawab kebutuhan penting dalam pengelolaan sampah, yakni ketiadaan data terstruktur dan akurat sebagai dasar kebijakan. Selama ini, banyak keputusan operasional diambil setelah TPS bermasalah dan muncul keluhan warga. Dengan pemantauan otomatis dan terintegrasi, data volume sampah dinilai dapat diperoleh lebih cepat sehingga analisis, prediksi, dan penyusunan kebijakan dapat dilakukan lebih tepat.

Kasie Ekonomi Pembangunan (Ekbang) Kelurahan Sadang Serang, Ratnaningrum, menyatakan implementasi teknologi ini penting karena Kota Bandung masih berada dalam situasi darurat sampah. Ia menilai edukasi masyarakat terkait perilaku membuang sampah tidak mudah karena karakter setiap warga berbeda. Karena itu, sistem yang menampilkan kondisi TPS secara visual melalui aplikasi dinilai dapat membantu warga memahami kapasitas TPS secara lebih nyata dan mendorong partisipasi dalam mengatur pola pembuangan.

Ratnaningrum juga menyoroti aspek kemudahan pelayanan publik. Menurutnya, tampilan foto TPS, indikator kapasitas, dan notifikasi otomatis dapat mengurangi potensi keluhan warga, sekaligus mendukung koordinasi antara petugas TPS dan pihak kewilayahan agar pengelolaan berjalan lebih lancar.

Data yang dihimpun dari wilayah percontohan seperti Sadang Serang direncanakan akan diintegrasikan dengan Command Center Kota Bandung, sehingga pemanfaatannya dapat diperluas ke tingkat kota dan provinsi. Augie berharap Smart Trash IoT dapat diterapkan di lebih banyak TPS di Kota Bandung agar pengambilan keputusan dalam pengelolaan sampah menjadi lebih akurat dan berkelanjutan.

Implementasi Smart Trash IoT ini disebut sebagai wujud kontribusi ITB dalam mendukung pemerintah dan masyarakat menangani persoalan persampahan. Kolaborasi berkelanjutan diharapkan dapat membantu mewujudkan lingkungan perkotaan yang lebih bersih, sehat, dan nyaman bagi warga Bandung.