BERITA TERKINI
ITB Gelar Innovibes Vol. 1 di ITB Innovation Park, Dorong Kolaborasi Riset dan Teknologi

ITB Gelar Innovibes Vol. 1 di ITB Innovation Park, Dorong Kolaborasi Riset dan Teknologi

Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi Institut Teknologi Bandung (DKST ITB) menggelar Innovibes Vol. 1 bertema “Teknologi Cerdas dan Konektivitas Digital” di Innercourt, ITB Innovation Park, Summarecon Bandung, Kamis (9/10/2025). Kegiatan ini dirancang sebagai ruang pertemuan antara akademisi dan industri untuk memperkenalkan aktivitas ITB di luar kampus serta mendorong kolaborasi riset dan inovasi.

Direktur Kawasan Sains dan Teknologi ITB, Ir. R. Sugeng Joko Sarwono, M.T., Ph.D., mengatakan Innovibes akan menjadi program rutin yang diselenggarakan empat kali dengan tema berbeda, mulai dari teknologi digital, transportasi, kesehatan, hingga mitigasi bencana. Ia menyebut program ini diharapkan dapat membuka ruang kolaborasi sekaligus memperkuat peran kawasan tersebut sebagai penggerak pengembangan teknologi dan inovasi.

Dalam rangkaian acara, ITB juga menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan PT Summarecon Agung Tbk. melalui anak perusahaannya, PT Mahkota Permata Perdana. Penandatanganan dilakukan oleh Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., dan Direktur Utama PT Mahkota Permata Perdana sekaligus Executive Director Summarecon Bandung, Hindarko Hasan.

Kerja sama ini disebut sebagai komitmen kedua pihak dalam pengembangan kawasan ekosistem pendidikan dan teknologi ITB di Summarecon Bandung, serta tindak lanjut terwujudnya Science and Technology Park (STP) yang terintegrasi antara riset akademik, industri, dan kewirausahaan.

Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., menilai kehadiran ITB Innovation Park merupakan hasil kolaborasi panjang antara ITB, pemerintah, dan pelaku industri. Ia menyampaikan harapan agar kawasan tersebut menjadi pusat inovasi riset dan kewirausahaan berteknologi tinggi dengan penekanan pada hilirisasi, sekaligus menjadi wadah berkumpulnya startup, founder, dan co-founder muda Indonesia.

Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi ITB, Prof. Ir. Lavi Rizki Zuhal, Ph.D., menyebut Innovibes sebagai salah satu langkah awal untuk memulai aktivitas di ITB Innovation Park. Menurutnya, ITB tengah bertransformasi menjadi universitas generasi keempat, yang tidak hanya menghasilkan luaran akademik, tetapi juga mendorong dampak langsung bagi masyarakat melalui pengembangan startup dan hilirisasi riset agar lebih marketable.

Sementara itu, Hindarko Hasan menekankan pentingnya implementasi nyata dari kerja sama yang disepakati. Ia menyatakan MoU tersebut diharapkan tidak berhenti pada dokumen, melainkan diwujudkan melalui ide-ide inovatif yang dekat dengan kebutuhan masyarakat, serta pengembangan lahan menjadi kawasan multifungsi yang melahirkan startup bermanfaat bagi Indonesia.

Acara ini juga menampilkan pameran inovasi dari berbagai unit di ITB. Salah satu yang diperagakan adalah drone ZEKE03 karya Tim Flight Control System (FCS) Raptor Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB, yang dibina dosen dari kelompok keahlian Mekanika dan Operasi Terbang, Dr. Ir. Yazdi Ibrahim Jenie, S.T, M.T. Inovasi tersebut merupakan sistem inspeksi ruang terbatas berbasis mikro drone beroda, hasil kegiatan “Design and Build of Confined Space Inspection System Based on Micro Drones” yang dikembangkan bersama PT Terra Drone Indonesia melalui skema Kedai Reka Matching Fund 2024.

Selain pameran, rangkaian Innovibes Vol. 1 meliputi talkshow, tur fasilitas DKST, serta pitching exhibitor yang menampilkan berbagai produk inovasi unggulan ITB. Ke depan, ITB Innovation Park juga akan memperkuat perannya sebagai ekosistem riset dan bisnis melalui dukungan program PRIME STeP (Promoting Research and Innovation through Modern and Efficient Science and Technology Parks) dari Asian Development Bank (ADB), dengan empat fokus utama: teknologi informasi dan produk digital, rekayasa transportasi dan energi, infrastruktur dan kebencanaan, serta pangan dan kesehatan.

Dengan menekankan kolaborasi dan hilirisasi riset, Innovibes Vol. 1 diposisikan sebagai langkah awal menuju pembangunan ekosistem teknologi yang lebih inklusif dan berdampak bagi masyarakat.