Iran dilaporkan mengalami pemadaman internet nasional yang nyaris total selama lebih dari 168 jam atau lebih dari sepekan. Kondisi ini membatasi kemampuan warga untuk terhubung ke internet dan membuat negara berada dalam situasi yang digambarkan sebagai “kegelapan digital.”
Lembaga pemantau konektivitas internet, Netblocks, menyatakan pemadaman tersebut berdampak luas, tidak hanya pada aktivitas komunikasi dan akses informasi, tetapi juga pada kemampuan warga melakukan transaksi. Netblocks menyebut pemadaman telah berlangsung hingga melewati jam ke-168, membuat masyarakat terisolasi tanpa pembaruan maupun peringatan penting, sementara pejabat dan media negara dilaporkan tetap memiliki akses.
Netblocks juga melaporkan bahwa sebagian warga yang masih dapat terhubung ke internet menghadapi ancaman tindakan hukum dari penyedia layanan mereka. Situasi ini dinilai menciptakan lingkungan yang menekan bagi akses internet.
Jurnalis Iran-Amerika, Masih Alinejad, menyoroti dampak sosial dari gangguan tersebut. Ia menyatakan pemadaman telah membuat “juta orang dalam kegelapan” dan mendorong keluarga di berbagai negara berada dalam ketidakpastian mengenai kondisi orang-orang terdekat mereka.
Pemadaman ini turut memengaruhi sektor aset digital di dalam negeri. Bursa kripto besar seperti Nobitex dan Ramzinex disebut sempat menghentikan operasinya pada awal pemadaman, sebelum kembali beroperasi dengan pembatasan, sejalan dengan ketentuan tambahan dari Bank Sentral Iran.
Pembatasan internet skala besar di Iran bukan kali pertama terjadi. Dalam laporan yang sama disebutkan bahwa pada Januari, pemerintah menerapkan pemadaman serupa selama 20 hari ketika penduduk menggelar protes nasional terkait krisis ekonomi.
Dampak ekonomi dari pemadaman internet sebelumnya diperkirakan signifikan. Menteri Komunikasi Iran disebut memperkirakan kerugian ekonomi harian mencapai 35,7 juta dolar AS.