PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) meluncurkan versi terbaru LADI (Live Accumulation/Distribution Indicator), indikator akumulasi dan distribusi yang dikembangkan berbasis data streaming real-time. IPOT mengklaim fitur tersebut menjadi yang pertama dan satu-satunya yang tersedia bagi investor ritel di Indonesia.
Peluncuran ini hadir di tengah pertumbuhan pesat jumlah investor ritel, terutama dari kalangan milenial dan Gen Z. Namun, IPOT menilai masih banyak aplikasi sekuritas yang pada praktiknya berfungsi sebagai penampil data (data viewer), karena indikator yang disajikan kerap berbasis data historis atau snapshot, bukan analitik streaming real-time.
Menurut IPOT, kondisi itu dapat memunculkan jeda antara pergerakan pasar yang berlangsung setiap detik dengan indikator yang tidak memperbarui data secara langsung. “Pasar bergerak setiap detik. Jika indikator yang digunakan investor tidak bergerak secepat pasar, maka akan muncul gap antara realitas dan persepsi,” kata President Director & CEO PT Indo Premier Sekuritas, Moleonoto The. Ia menambahkan, dalam aktivitas trading, gap tersebut dapat berdampak pada keputusan masuk setelah momentum selesai atau keluar setelah distribusi terjadi.
IPOT menyebut LADI sebagai bagian dari transformasi aplikasi mereka dari sekadar menampilkan angka menjadi “Market Intelligence Engine”. Melalui arsitektur internal yang dikembangkan perusahaan, LADI diklaim menghadirkan indikator akumulasi/distribusi berbasis streaming data, pemantauan beberapa saham sekaligus dalam satu layar, komparasi performa 1D, 1M, 1Y, YTD hingga 10Y secara dinamis, serta deteksi tekanan akumulasi dan distribusi tanpa jeda.
Dengan pendekatan tersebut, investor disebut tidak hanya melihat apa yang telah terjadi, melainkan dapat memantau tekanan beli dan jual saat transaksi berlangsung.
IPOT juga menyoroti potensi risiko penggunaan indikator yang tidak real-time. Pertama, keterlambatan membaca fase akumulasi atau distribusi dapat membuat investor masuk ketika fase hampir selesai atau keluar saat distribusi sudah berjalan. Kedua, muncul “false sense of timing”, ketika investor merasa membaca sinyal pasar padahal indikator merepresentasikan kondisi historis. Ketiga, trading menjadi lebih reaktif berbasis harga, bukan berbasis tekanan underlying, yang dinilai meningkatkan risiko kesalahan eksekusi saat volatilitas tinggi. Keempat, tanpa integrasi real-time dalam satu tampilan, investor perlu berpindah halaman untuk verifikasi tambahan yang dapat memperlambat analisis.
IPOT menyatakan indikator akumulasi/distribusi selama ini lazim dipakai dalam trading institusional untuk membaca tekanan beli dan jual sebelum sepenuhnya tercermin pada harga. Melalui LADI, perusahaan menyebut teknologi “institutional-grade” kini dihadirkan untuk investor ritel.
Menurut IPOT, pengembangan indikator real-time membutuhkan infrastruktur data streaming berkecepatan tinggi, sistem low-latency, pengodean algoritmik presisi, serta pengujian berkelanjutan oleh tim kuantitatif internal. Kompleksitas engineering dan besarnya investasi teknologi dinilai membuat tidak semua perusahaan sekuritas memilih pendekatan ini, sehingga banyak platform tetap menggunakan model data viewer yang lebih sederhana.
IPOT menyebut mereka membangun engine algoritmik LADI secara internal agar indikator dapat diperbarui secara kontinu seiring transaksi terjadi di pasar.
Fitur LADI dapat diakses melalui menu Market → Selected Stocks → LADI atau dengan memilih saham lalu masuk ke Dashboard → LADI.
Di tengah persaingan industri sekuritas, IPOT menilai investor kini dihadapkan pada dua pendekatan: indikator berbasis data historis atau indikator berbasis real-time yang menampilkan visibilitas tekanan pasar secara langsung. “Investor berhak mendapatkan teknologi yang selaras dengan dinamika pasar. Jika pasar bergerak real-time, indikator seharusnya juga real-time,” ujar Moleonoto The.
IPOT mengingatkan bahwa keputusan investasi dan trading merupakan tanggung jawab masing-masing individu. Investor diminta melakukan riset mandiri dan memahami risiko sebelum bertransaksi.