BERITA TERKINI
Internet Stabil Dorong Usaha Rumahan: Kisah Ibu Lima Anak Memanfaatkan Digitalisasi di Ramadan

Internet Stabil Dorong Usaha Rumahan: Kisah Ibu Lima Anak Memanfaatkan Digitalisasi di Ramadan

Ramadan bagi seorang ibu rumah tangga dengan lima anak sekolah bisa menjadi masa yang padat: daftar belanja memanjang, kebutuhan dapur datang silih berganti, dan tagihan pendidikan tetap berjalan. Namun di tengah ritme domestik tersebut, digitalisasi menghadirkan perubahan yang dirasakan langsung dalam ekonomi keluarga.

Jika sebelumnya banyak urusan harus dilakukan secara manual—mulai dari membayar listrik, mencari bahan baku ke pasar, hingga menawarkan dagangan dari mulut ke mulut—kini berbagai aktivitas dapat dilakukan dari rumah lewat satu gawai. Transfer, promosi, komunikasi dengan pelanggan, hingga pemantauan keamanan rumah menjadi lebih mudah diakses. Bagi pelaku usaha rumahan, kemudahan ini bukan semata soal praktis, melainkan turut mengubah cara keluarga mengelola pemasukan dan pengeluaran.

Perubahan itu dirasakan ketika sang ibu memulai usaha dari hobi membuat kue kering untuk takjil Ramadan. Awalnya kue dibuat untuk konsumsi keluarga, tetapi anak-anak menyarankan agar produk tersebut dijual secara online. Ia kemudian belajar memotret produk, menyusun katalog sederhana, dan mempromosikannya melalui media sosial. Pesanan yang semula datang dari tetangga mulai meluas ke luar kompleks, bahkan ke luar kota.

Dari pengalaman tersebut, ia menilai konektivitas menjadi fondasi penting. Internet yang stabil menentukan kelancaran promosi, komunikasi dengan pelanggan, dan proses transaksi. Dalam prosesnya, ia mengenal Primacom, perusahaan komunikasi yang disebut telah memulai perjalanan sejak 1991 dan berfokus pada konektivitas berbasis teknologi satelit, termasuk untuk menjangkau wilayah terpencil.

Ia memandang layanan konektivitas sebagai bagian dari ekosistem yang menopang usaha kecil di rumah. Dalam narasi yang ia pahami, Primacom memiliki tiga pilar terintegrasi: konektivitas, data center dan cloud, serta enterprise solutions. Meski terdengar teknis, ia menilai dampaknya bisa dirasakan dalam aktivitas sehari-hari—mulai dari menjaga usaha tetap terhubung hingga memberi rasa aman dalam penyimpanan data transaksi dan katalog produk.

Selain untuk usaha, digitalisasi juga dimanfaatkan untuk aspek keamanan rumah. Pada Ramadan, rumah kerap kosong ketika anak-anak tarawih atau mengikuti pesantren kilat. Dengan CCTV yang terhubung ke ponsel, ia dapat memantau kondisi rumah secara realtime, sehingga merasa lebih tenang dan dapat beribadah dengan lebih khusyuk.

Seiring berkembangnya aktivitas daring, ia tidak hanya menjual kue. Ia juga menawarkan tanaman hias hasil rawat sendiri, peralatan dapur yang dikurasi, serta pakaian muslim anak yang dipilihnya. Semua dijalankan dari rumah dan bertumpu pada kemauan belajar serta koneksi internet yang andal.

Dampak digitalisasi juga dirasakan anak-anaknya. Mereka belajar membuat desain grafis sederhana untuk poster promosi dan memahami dasar manajemen keuangan dari hasil penjualan. Bagi keluarga ini, digitalisasi tidak hanya dipandang sebagai alat berjualan, tetapi juga ruang belajar yang memperluas kapasitas anggota keluarga.

Pengalaman tersebut menggambarkan bagaimana konektivitas dan perangkat digital dapat membuka peluang ekonomi bagi usaha rumahan, terutama di momen seperti Ramadan. Di tengah peran domestik yang tetap berjalan, teknologi dinilai tidak menggantikan peran ibu, melainkan memperkuatnya dalam mengelola rumah sekaligus mendorong ekonomi keluarga.