Mengasuh anak sejak awal bukan perkara mudah. Namun di era internet, tantangannya kerap terasa berbeda: informasi tentang kehamilan, kelahiran, hingga tahun-tahun awal anak kini tersedia melimpah, datang dari berbagai arah, dan tidak jarang saling bertentangan.
Sebelum internet menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, orangtua muda umumnya mengandalkan saran dari kakek-nenek, orangtua, teman, dan kerabat yang berniat baik. Masukan juga bisa datang dari buku atau dokter. Kini, situasinya berubah. Internet menawarkan lautan informasi yang nyaris tak ada habisnya, membuat orangtua baru perlu memilah mana yang relevan dan dapat diandalkan—tanpa tenggelam dalam banjir nasihat.
Dalam seri dua bagian ini, pengalaman orangtua muda di Singapura menjadi sorotan, menggambarkan bagaimana mereka berhadapan dengan berbagai hal yang disodorkan internet, mulai dari masa kehamilan hingga fase awal kehidupan anak. Mereka dihadapkan pada kebutuhan untuk menilai informasi, memilih yang paling cocok untuk kondisi keluarga masing-masing, sekaligus mengelola kebisingan digital yang terus muncul.
Selain informasi, tekanan sosial juga hadir lewat media sosial. Gambaran tentang “ibu super” dan “ayah sempurna” dapat memunculkan ekspektasi yang sulit dipenuhi. Di tengah arus tersebut, orangtua ditantang untuk menjadikan internet sebagai sekutu—mengambil manfaatnya—sembari mengetahui kapan harus mengabaikan atau mematikan informasi yang tidak diperlukan.
Pada akhirnya, pertanyaan besarnya tetap sama: apakah internet membuat pengasuhan menjadi lebih mudah, atau justru menambah beban? Seri ini menelusuri bagaimana orangtua baru menavigasi realitas tersebut dan mencari cara paling sesuai untuk keluarga mereka.