Hyundai Motors Indonesia menegaskan fokus utamanya saat ini adalah menjaga pangsa pasar di tengah kondisi industri otomotif yang dinilai penuh tantangan. Chief Operating Officer Hyundai Motors Indonesia, Fransiscus Soerjopranoto, menyebut mempertahankan market share lebih penting dibanding sekadar mengejar volume penjualan ketika pasar sedang berfluktuasi.
Menurut Fransiscus, pasar otomotif nasional diperkirakan berada di kisaran 750.000 unit hingga akhir 2025. Proyeksi tersebut membuat persaingan antar merek semakin ketat. Karena itu, Hyundai memilih strategi yang berimbang dengan tetap memperkenalkan produk baru sekaligus memperkuat layanan kepada pelanggan.
Ia menilai penurunan pangsa pasar menjadi risiko terbesar yang harus dihindari. “Kalau market share kita sampai turun dalam, itu yang paling berbahaya buat kita,” ujar Fransiscus dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (23/12/2025).
Hyundai melihat dua faktor utama untuk menjaga dan meningkatkan pangsa pasar. Pertama, konsistensi menghadirkan produk baru yang sesuai kebutuhan konsumen. Kedua, penguatan layanan purnajual agar pengalaman pelanggan semakin baik. Fransiscus menekankan suara konsumen sangat menentukan citra merek, terutama di era media sosial. “Yang bisa memberikan komentar baik atau buruk itu bukan kendaraannya, tapi pemiliknya,” katanya.
Sepanjang 2025, kontribusi terbesar Hyundai masih datang dari model Stargazer. Di segmen kendaraan MPV, pasar disebut mengalami penurunan cukup tajam. Namun, penurunan penjualan Stargazer dinilai lebih kecil dibandingkan kompetitor di kelas yang sama, sehingga Hyundai justru memperoleh tambahan pangsa pasar dari segmen tersebut.
Saat ini, market share Hyundai berada di kisaran 7,3% hingga 7,5% dan menempatkan Hyundai di posisi empat besar pasar otomotif nasional.
Untuk menjaga momentum, Hyundai menyiapkan langkah lanjutan berupa peluncuran produk baru yang dijadwalkan ulang. Peluncuran yang semula direncanakan dalam waktu dekat diputuskan untuk ditunda dan dijadwalkan pada kuartal pertama 2026.
Pada periode tersebut, Hyundai berencana memperkenalkan dua model baru, masing-masing dengan mesin pembakaran internal dan teknologi hybrid. Sementara untuk kendaraan listrik, Hyundai menyatakan masih menunggu kejelasan kebijakan insentif dari pemerintah.
Fransiscus menambahkan kontribusi kendaraan elektrifikasi, baik hybrid maupun listrik murni, terus meningkat di Indonesia. Saat ini, kontribusi mobil listrik dan hybrid secara total disebut sudah mendekati 20% dari pasar. Menurutnya, regulasi insentif akan sangat menentukan arah pertumbuhan industri otomotif ke depan. “Kami ingin melihat combustion, hybrid, dan EV bisa tumbuh bersama,” ujarnya.
Melihat kondisi makroekonomi dan arah kebijakan, Hyundai menyatakan optimistis menyambut 2026. Penurunan suku bunga dan meningkatnya peredaran uang dinilai dapat mendorong pembelian kendaraan baru, terutama karena mayoritas transaksi otomotif masih didominasi kredit. Fransiscus memprediksi pasar otomotif tahun depan berpotensi tumbuh dan bisa melampaui capaian 2025.