BERITA TERKINI
Garda Indonesia Sebut ‘Krisis Ojol’ di Jakarta Dipicu Protes Driver soal Besarnya Potongan Aplikasi

Garda Indonesia Sebut ‘Krisis Ojol’ di Jakarta Dipicu Protes Driver soal Besarnya Potongan Aplikasi

Asosiasi pengemudi ojek online (ojol) Garda Indonesia menanggapi fenomena yang belakangan disebut sebagai “krisis ojol” di Jakarta selama Ramadan 2026. Menurut asosiasi tersebut, sulitnya mendapatkan layanan ojol bukan terutama disebabkan lonjakan permintaan atau banyaknya pengemudi yang mudik, melainkan dipicu persoalan pemotongan biaya aplikasi yang dinilai terlalu besar.

Ketua Umum Garda Indonesia, Raden Igun Wicaksono, mengatakan kondisi sulit memesan ojol di Jakarta merupakan bentuk protes atau “silent treatment” dari mitra pengemudi. Ia menyebut pengemudi mengabaikan pesanan yang masuk sebagai respons atas penghasilan yang terus terpotong oleh aplikator.

Igun menyatakan, Garda Indonesia memprotes besaran potongan biaya aplikasi yang menurutnya sudah tidak dapat ditoleransi. Ia juga menyinggung belum adanya keputusan konkret dari pemerintah terkait pengaturan skema bagi hasil 90:10 persen, sehingga aksi diam dengan mengabaikan order menjadi salah satu bentuk protes.

Menurut Igun, potongan aplikasi seharusnya berada di kisaran 10–15 persen. Namun, ia menyebut di lapangan angkanya dapat mencapai 50 persen, sehingga ketika pengemudi menerima pesanan, separuh pendapatan masuk ke aplikasi. Kondisi itu, kata dia, membuat pengemudi kehilangan gairah untuk menerima order.

Ia menambahkan, apabila situasi tersebut dibiarkan berlarut-larut, aksi “silent treatment” dikhawatirkan dapat terus terjadi. Igun juga menyinggung skema lain seperti “fitur hemat” dan “skema member” yang disebutnya ikut memperkecil pendapatan pengemudi setelah pemotongan biaya aplikasi.

Dalam sepekan terakhir, keluhan warga terkait sulitnya memesan ojol di Jakarta ramai muncul dan kemudian dilabeli sebagai “krisis ojol”. Istilah itu banyak digunakan di media sosial, terutama X dan Instagram. Keluhan tidak hanya soal sulitnya mendapatkan pengemudi, tetapi juga pergerakan mitra yang dinilai lambat setelah pesanan dikonfirmasi.

Kesulitan pemesanan disebut terjadi terutama pada jam malam atau saat pulang kerja. Selain layanan roda dua, warga juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan pengemudi roda empat atau taksi online.

Sementara itu, Gojek dan Grab Indonesia sebelumnya menyampaikan ada sejumlah faktor yang memicu fenomena tersebut, mulai dari perubahan pola pemesanan, tingginya penggunaan aplikasi pada jam-jam tertentu, cuaca yang sering hujan, hingga mitra pengemudi yang sudah mudik ke kampung halaman.