Galaxy Ventures memimpin putaran pendanaan senilai US$20 juta untuk Fence, sebuah startup yang mengembangkan perangkat lunak guna mengelola lapisan operasional transaksi kredit terstruktur. Pendanaan ini juga diikuti oleh Parafi Capital dan Crane Ventures.
Fence menargetkan pembenahan proses back-office di pasar pembiayaan berbasis aset yang disebut bernilai sekitar US$6 triliun, di mana banyak transaksi masih bergantung pada alur kerja manual. Dalam praktiknya, proses seperti pelacakan kumpulan pinjaman, verifikasi agunan, hingga pemindahan dana kerap terpecah di antara beberapa pihak dan masih dijalankan menggunakan spreadsheet, PDF, serta email. Kondisi tersebut dinilai dapat memperlambat transaksi dan membatasi visibilitas investor terhadap aset yang menjadi dasar investasi mereka.
CEO sekaligus salah satu pendiri Fence, Juan Montero, mengatakan perusahaan ingin menggantikan proses yang terfragmentasi itu dengan satu sistem yang memperbarui data secara real time. Dengan pendekatan ini, pemberi pinjaman dapat memantau kinerja pinjaman dan arus kas secara berkelanjutan, alih-alih mengandalkan laporan berkala.
Fence menyatakan model tersebut berpotensi menekan biaya bagi manajer aset besar. Perusahaan mencontohkan kerja sama dengan BBVA, bank besar di Spanyol yang mengawasi aset sekitar US$800 miliar. Dalam kesepakatan tersebut, Fence melaporkan biaya pendanaan yang lebih rendah bagi peminjam dan berkurangnya pekerjaan operasional, sembari memungkinkan pelacakan volume pinjaman besar secara kontinu.
Dalam implementasinya, Fence menggunakan teknologi blockchain sebagai infrastruktur di belakang layar, bukan sebagai produk yang berhadapan langsung dengan pengguna. Perusahaan menyebut tidak menawarkan token atau dompet kripto kepada bank maupun manajer aset. Sebagai gantinya, Fence memanfaatkan smart contract untuk mengelola kas, agunan, serta aturan yang mengatur kesepakatan pembiayaan.
Montero menjelaskan bahwa dalam skema pembiayaan yang umum, pemberi pinjaman bisa menunggu berhari-hari untuk proses pemeriksaan data pinjaman, pengiriman laporan, hingga penyelesaian pembayaran. Fence, menurutnya, menarik informasi melalui API, menjalankan pemeriksaan di perangkat lunak, lalu menggunakan kontrak pintar untuk melepaskan dana ketika ketentuan kesepakatan terpenuhi.
Perusahaan juga menyebut dapat melakukan tokenisasi atas posisi pemberi pinjaman dalam kendaraan pembiayaan, dan dalam beberapa kasus terhadap pinjaman atau faktur yang mendasarinya. Langkah ini diklaim memungkinkan investor memindahkan posisi, meminjam dengan jaminan tersebut, atau menerima pembayaran secara otomatis jika terjadi perubahan kepemilikan. Namun, Montero menekankan tokenisasi hanya digunakan bila memberikan nilai tambah.
“Kami tidak ingin dilihat sebagai perusahaan blockchain. Kami sedang membangun infrastruktur untuk pasar modal,” kata Montero. Ia menambahkan, sementara pihak lain berfokus pada digitalisasi dokumen, Fence berupaya membangun ulang “saluran pipa” operasional.
Fence menyatakan saat ini mengelola sekitar US$1,5 miliar aset di platformnya dan bekerja dengan sejumlah perusahaan, termasuk BlackRock dan Fortress. Perusahaan mengklaim dapat memproses kesepakatan baru dalam hitungan minggu, dibandingkan berbulan-bulan pada proses standar.
Menurut Montero, pendanaan baru ini akan digunakan untuk memperluas operasi Fence di Amerika Serikat dan mengembangkan produk. Perusahaan bertaruh bahwa akses data yang lebih cepat dan berkurangnya pekerjaan manual dapat mengubah cara pasar kredit beroperasi di balik layar.