Setiap Ramadan, muncul kebiasaan yang kerap dilakukan banyak orang tanpa disadari: membuka aplikasi pesan antar makanan sejak siang hari dan menelusuri berbagai menu, padahal waktu berbuka masih berjam-jam lagi. Aktivitas ini kerap terasa seperti “olahraga jari” karena dilakukan lewat scrolling tanpa henti, terutama pada jam-jam rawan ketika tubuh mulai lelah dan dehidrasi.
Secara logika, kebiasaan tersebut tampak janggal. Pengguna sengaja menatap foto makanan beresolusi tinggi—mulai dari ayam goreng, minuman dingin, hingga martabak manis—ketika azan magrib masih lama. Namun alih-alih menutup aplikasi, jempol justru terus bergerak, berpindah dari satu menu ke menu lain.
Ritual ini sering berlangsung cukup lama. Ada yang menghabiskan waktu sekitar 30 menit hanya untuk menjelajahi kategori seperti “Promo Ramadan” atau “Menu Takjil Terlaris”. Meski tidak langsung berniat memesan, aktivitas tersebut memberi pengalaman semacam “ziarah visual”: menonton, membandingkan, dan membayangkan rasa.
Menariknya, menelusuri menu dan memasukkan makanan ke keranjang belanja dapat memunculkan kepuasan psikologis yang semu. Saat seseorang menambahkan nasi padang paket lengkap, perkedel, hingga kerupuk kulit, lalu melihat total harga, muncul sensasi seolah sudah “memiliki” atau hampir mengonfirmasi pilihan. Padahal, tombol check-out tetap menjadi batas yang biasanya baru dilewati menjelang sore.
Di balik kebiasaan itu, terdapat dorongan optimisme yang kadang berlebihan. Dengan melihat-lihat makanan, sebagian orang seperti sedang melakukan gladi resik untuk kebahagiaan saat berbuka, membangun narasi bahwa nanti sore akan ada “hadiah” setelah menahan lapar dan dahaga.
Namun, realitas sering berbeda ketika waktu berbuka tiba. Setelah azan magrib berkumandang, segelas air putih dan beberapa gorengan kerap sudah cukup membuat rencana menu “mewah” yang disusun sejak siang hari berubah haluan, bahkan batal dipesan.
Meski begitu, kebiasaan scrolling aplikasi makanan juga menyimpan tantangan tersendiri. Ia menjadi ujian menahan diri versi modern: godaan berpindah dari meja makan ke layar ponsel. Algoritma aplikasi yang menampilkan menu sesuai kebiasaan pencarian membuat godaan terasa lebih kuat, karena pengguna terus disuguhi jenis makanan yang paling disukai.
Di sisi lain, aktivitas ini dapat membuat pengguna menjadi pengamat kuliner dadakan. Dari kebiasaan menelusuri menu, sebagian orang jadi mengetahui tempat makan dengan ulasan yang dianggap paling jujur, membedakan foto yang tampak meyakinkan atau menipu, hingga memantau diskon yang sedang berlangsung. Informasi kuliner bertambah, meski perut sedang kosong.
Tak jarang pula, pengguna menyadari dirinya menumpuk banyak makanan dari beberapa restoran berbeda dalam satu keranjang, seolah kapasitas perut tak terbatas. Fenomena “lapar mata” muncul dalam bentuk digital: keinginan tidak lagi semata pada rasa, melainkan pada citra makanan yang tampil menarik di layar.
Pada akhirnya, “olahraga jari” saat Ramadan dapat dibaca sebagai cara sebagian orang merayakan harapan sekaligus melatih kesabaran. Aplikasi makanan menjadi hiburan yang menggelitik, namun juga bisa terasa menyiksa karena mengingatkan bahwa ada kenikmatan yang masih harus ditunggu hingga garis finis bernama waktu berbuka.
Bagi banyak orang, scrolling mungkin akan tetap berlanjut. Namun satu hal yang kerap diingat: jangan sampai jari terpeleset menekan tombol “Pesan Sekarang” terlalu awal, karena saat itu aktivitas tersebut bukan lagi sekadar hiburan menunggu waktu berbuka.