Ekosistem startup global diperkirakan memasuki fase pematangan pada 2026. Perubahan ini ditandai oleh dominasi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan pola investasi yang semakin selektif, setelah periode pertumbuhan agresif selama beberapa tahun terakhir.
Dalam fase konsolidasi tersebut, investor disebut lebih memprioritaskan startup dengan model bisnis yang kuat, berkelanjutan secara finansial, serta memiliki dampak nyata bagi pasar. AI pun tidak lagi dipandang sebagai pelengkap, melainkan menjadi inti produk dan layanan, mulai dari peningkatan efisiensi operasional, analisis data, otomatisasi layanan, hingga pengembangan solusi di sektor pendidikan, kesehatan, keuangan, dan pemasaran digital.
Tren global ini turut memengaruhi ekosistem startup di Indonesia. Para pendiri startup mulai menggeser fokus dari sekadar mengejar pertumbuhan cepat menuju penguatan fundamental bisnis, efisiensi operasional, dan profitabilitas jangka panjang. Pergeseran tersebut dinilai mencerminkan semakin dewasanya ekosistem startup nasional di tengah persaingan yang kian kompetitif.
Di tengah perubahan itu, peran perguruan tinggi dinilai semakin strategis, tidak hanya sebagai pusat pendidikan akademik, tetapi juga sebagai inkubator lahirnya startup berbasis teknologi. Universitas Nusa Mandiri (UNM) melalui Nusa Mandiri Startup Center (NSC) menyatakan mendampingi mahasiswa mengembangkan ide bisnis digital, mulai dari riset pasar, validasi produk, hingga pemanfaatan teknologi mutakhir seperti AI.
Kepala Nusa Mandiri Startup Center, Siti Nurlela, menilai dinamika lanskap startup saat ini justru membuka peluang bagi mahasiswa untuk tampil sebagai pelaku utama inovasi digital. “Ekosistem startup saat ini menuntut kualitas, bukan sekadar kecepatan tumbuh. Mahasiswa perlu dibekali kemampuan riset pasar, validasi produk, serta pemanfaatan teknologi seperti AI agar startup yang dibangun memiliki daya tahan dan daya saing jangka panjang,” ujarnya dalam rilis yang diterima pada Jumat (30/1).
Ia menegaskan dukungan inkubasi berbasis kampus menjadi faktor kunci untuk mencetak startup yang tidak hanya bertahan, tetapi juga relevan di era ekonomi digital. Menurutnya, 2026 dapat menjadi momentum penting bagi startup untuk membuktikan kualitas, keberlanjutan, serta kontribusinya terhadap pembangunan ekonomi berbasis teknologi.