Gelombang ekonomi digital disebut kian nyata di Indonesia. Negara ini tidak lagi dipandang semata sebagai pasar, melainkan menjadi salah satu pusat pertumbuhan startup terbesar di Asia Tenggara. Dalam situasi tersebut, pertanyaan yang mengemuka bukan lagi soal ada tidaknya peluang, tetapi siapa yang siap mengambil peran.
Di tengah perkembangan itu, masih banyak mahasiswa yang dinilai menempatkan diri sebagai penonton. Pola pikir “kuliah–lulus–cari kerja” disebut masih dominan, meski lanskap ekonomi berubah cepat. Pada era digital, mahasiswa memiliki ruang lebih luas untuk menjadi inovator, membangun startup, hingga menciptakan lapangan kerja sejak masih menempuh pendidikan.
Laporan e-Conomy SEA dari Google, Temasek, dan Bain & Company memproyeksikan ekonomi digital Indonesia akan menembus lebih dari 130 miliar dolar AS dalam beberapa tahun ke depan. Proyeksi tersebut dikaitkan dengan pertumbuhan sektor e-commerce, fintech, serta berbagai layanan berbasis aplikasi yang semakin masif.
Di balik proyeksi itu, terbuka ruang besar yang dinilai dapat diisi generasi muda. Mahasiswa dianggap memiliki keunggulan karena dekat dengan teknologi, memahami tren, perilaku pengguna, dan dinamika digital lebih cepat dibanding generasi sebelumnya.
Namun, peluang dinilai tidak otomatis berujung pada keberhasilan tanpa kesiapan. Karena itu, peran perguruan tinggi dipandang krusial. Kampus disebut tidak cukup hanya menjadi pusat pembelajaran teoritis, melainkan perlu bertransformasi menjadi ekosistem yang mendorong inovasi dan kewirausahaan.
Universitas Nusa Mandiri (UNM) menyatakan memandang pendidikan tinggi perlu menjawab kebutuhan zaman. Mahasiswa tidak hanya dibekali teori, tetapi juga didorong untuk berpikir kreatif, berani mengambil risiko, dan mampu mengeksekusi ide menjadi solusi nyata.
Membangun startup juga disebut bukan semata soal ide. Banyak gagasan dinilai gagal berkembang karena tidak pernah diwujudkan. Tantangan terbesar disebut terletak pada keberanian memulai dan konsistensi dalam pengembangan. Sementara itu, hambatan memulai bisnis digital dinilai semakin kecil karena teknologi membuka akses, mulai dari pembuatan produk hingga pemasaran.
Dukungan terhadap ekosistem startup di Indonesia juga disebut semakin kuat, dengan keterlibatan pemerintah, investor, dan komunitas digital yang mendorong lahirnya inovasi baru. Meski demikian, ekosistem yang kuat tetap dinilai menjadi kunci, termasuk tersedianya ruang belajar dari praktik, akses mentor, serta kesempatan berkolaborasi dengan industri.
Di lingkungan UNM, sejumlah program berbasis teknologi dan bisnis digital disebut dirancang untuk menjawab kebutuhan tersebut. Melalui pendekatan pembelajaran yang adaptif serta dukungan program studi seperti Informatika, Sistem Informasi, dan Sains Data, mahasiswa didorong berkembang tidak hanya sebagai pencari kerja, tetapi juga sebagai pencipta peluang.
Ke depan, masa depan ekonomi digital Indonesia disebut sangat ditentukan oleh keberanian generasi muda. Mahasiswa dinilai perlu menjadi bagian dari perubahan, bahkan penggeraknya. Pilihan yang dihadapi generasi muda adalah tetap menjadi pengguna teknologi atau bertransformasi menjadi inovator yang menciptakan solusi.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, mereka yang berani memulai lebih awal dinilai memiliki keunggulan. Langkah kecil yang diambil sejak sekarang disebut dapat menjadi awal untuk membangun peran lebih besar dalam ekosistem startup.