BERITA TERKINI
Efisiensi AI Dinilai Jadi Penentu Daya Saing Bisnis Digital pada 2026

Efisiensi AI Dinilai Jadi Penentu Daya Saing Bisnis Digital pada 2026

Jakarta — Memasuki kuartal kedua 2026, perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) disebut kian mengubah cara bisnis digital beroperasi. AI tidak lagi dipandang sebatas alat otomatisasi, melainkan mulai menempati peran penting dalam pengambilan keputusan strategis perusahaan, seiring munculnya konsep yang dikenal sebagai autonomous commerce.

Perkembangan teknologi AI generasi terbaru, termasuk DeepSeek V4, turut memperlihatkan bahwa persaingan bisnis modern tidak hanya ditentukan oleh kreativitas pemasaran. Efisiensi sistem dan kecerdasan algoritma yang digunakan perusahaan juga dinilai menjadi faktor penentu. Kondisi ini membuat calon pelaku bisnis digital dituntut tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi memahami logika cara kerja AI untuk membangun usaha yang efisien dan berkelanjutan.

Kepala Kampus Universitas Nusa Mandiri (UNM) Kampus Jatiwaringin, Bryan Givan, menilai pemahaman terhadap logika algoritma kini menjadi kebutuhan penting bagi generasi muda yang ingin sukses di bisnis digital. “Logika algoritma sudah menjadi bahasa universal dalam industri modern. Pebisnis digital tidak bisa hanya mengandalkan insting bisnis atau strategi pemasaran semata. Mereka juga harus memahami bagaimana sistem AI bekerja agar dapat mengambil keputusan yang cepat, tepat, dan efisien,” ujar Bryan pada Jumat (8/5).

Menurut Bryan, pemanfaatan AI tanpa memperhitungkan aspek efisiensi berpotensi menjadi beban finansial, terutama terkait pengelolaan cloud computing dan infrastruktur data yang membutuhkan biaya besar.

Ia merujuk laporan Global AI Index 2026 yang mencatat lebih dari 70% kegagalan startup teknologi dipicu ketidakefisienan pengelolaan data dan sistem AI. Sebaliknya, perusahaan yang menerapkan algoritma hemat komputasi dan teknologi efisiensi memori disebut mampu menekan biaya operasional hingga lebih dari 40%.

Tren efisiensi tersebut disebut mulai terasa hingga sektor UMKM digital di Indonesia. Sejumlah pelaku usaha memanfaatkan AI untuk membaca perilaku konsumen secara real-time tanpa harus mengeluarkan biaya server yang tinggi. Hal ini menunjukkan efisiensi teknologi dinilai berkaitan langsung dengan keberlangsungan bisnis.

Sejalan dengan kebutuhan industri, UNM menyatakan menghadirkan sistem pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Melalui Program Studi S1 Bisnis Digital, mahasiswa disebut tidak hanya mempelajari strategi bisnis dan pemasaran modern, tetapi juga dibekali pemahaman logika sistem, analitik data, serta implementasi AI dalam dunia usaha melalui pendekatan project-based learning.

“Di Universitas Nusa Mandiri Kampus Jatiwaringin, mahasiswa kami dilatih menjadi pebisnis digital yang mampu mengombinasikan kreativitas bisnis dengan pemahaman teknologi. Mereka belajar bagaimana memanfaatkan AI secara strategis tanpa mengorbankan efisiensi biaya operasional perusahaan,” kata Bryan.

Ia menambahkan, kepemimpinan bisnis masa depan dinilai membutuhkan kemampuan membaca data dan memahami teknologi secara mendalam. Menurutnya, pebisnis digital yang mampu menghadirkan inovasi berbasis teknologi dengan biaya eksekusi yang efisien akan lebih siap menghadapi persaingan. UNM juga menyebut menyediakan fasilitas pembelajaran seperti Integrated Innovation Lab untuk mendukung pembentukan talenta digital.

Di tengah percepatan transformasi ekonomi digital, pemahaman tentang AI, data, dan efisiensi algoritma dipandang menjadi salah satu modal penting untuk bersaing pada era industri 5.0.