Beribadah di masjid, baik pada bulan Ramadhan maupun dalam keseharian, kerap menghadirkan suasana yang berbeda dibandingkan beribadah di rumah. Banyak umat Muslim merasa lebih khusyuk saat shalat berjamaah, mengikuti kajian, atau berdzikir bersama. Seiring perkembangan teknologi, sejumlah perangkat praktis mulai dimanfaatkan untuk menunjang kenyamanan ibadah di masjid, di antaranya e-tasbih digital dan sajadah travel.
Kebutuhan terhadap perlengkapan ibadah yang ringkas dinilai meningkat seiring perubahan gaya hidup yang semakin mobile. Sebagian jamaah datang ke masjid setelah bekerja, kuliah, atau beraktivitas di luar rumah, sehingga membutuhkan perlengkapan yang ringan dan mudah dibawa. Selain itu, tidak semua masjid menyediakan fasilitas yang lengkap atau sesuai dengan kebutuhan masing-masing jamaah, termasuk soal kebersihan dan kenyamanan.
E-tasbih digital merupakan alat penghitung dzikir elektronik yang membantu pengguna menghitung bacaan tasbih, tahmid, takbir, atau dzikir lainnya. Jika tasbih manual umumnya terdiri dari 33 atau 99 butir, versi digital menawarkan cara hitung yang lebih praktis melalui tombol dan layar kecil yang menampilkan jumlah bacaan. Bentuknya beragam, mulai dari model cincin yang dipasang di jari hingga perangkat kecil yang mudah disimpan di saku.
Sejumlah e-tasbih digital juga dilengkapi fitur tambahan, seperti layar yang lebih jelas, reset otomatis, mode getar, pencahayaan LED, serta kemampuan menghitung hingga ribuan bacaan. Ukurannya yang kecil dan ringan membuat perangkat ini kerap digunakan setelah shalat berjamaah, saat menunggu iqamah, maupun ketika mengikuti kajian di masjid.
Dari sisi manfaat, e-tasbih digital dinilai membantu jamaah yang ingin berdzikir dalam jumlah banyak karena lebih mudah digunakan dan mengurangi risiko salah hitung. Tampilan digital memungkinkan pengguna memantau jumlah bacaan secara langsung. Beberapa model bahkan memiliki fitur memori untuk menyimpan hitungan sebelumnya, yang bagi sebagian orang dapat membantu menjaga konsistensi ibadah harian.
Namun, kualitas perangkat dapat berbeda-beda. Sejumlah hal yang kerap menjadi pertimbangan saat memilih e-tasbih digital antara lain kenyamanan saat dipakai, ukuran yang pas, layar yang mudah dibaca dalam berbagai kondisi pencahayaan, daya tahan baterai, material yang kuat, serta kemudahan mengakses fitur reset. Pemilihan perangkat yang sesuai dinilai dapat membantu ibadah tetap nyaman tanpa mengganggu konsentrasi.
Selain e-tasbih digital, sajadah travel juga semakin banyak digunakan jamaah yang aktif dan sering berpindah tempat. Sajadah jenis ini dirancang agar mudah dilipat, ringan, dan praktis dibawa ke mana saja. Beberapa keunggulan yang sering dicari adalah ukuran yang kecil saat dilipat, bobot ringan, bahan yang cepat kering, dan kemudahan dimasukkan ke dalam tas kecil.
Jenis sajadah travel yang beredar pun beragam. Ada model ultralight yang tipis untuk kebutuhan perjalanan, sajadah dengan lapisan bawah anti air (waterproof) untuk penggunaan di tempat terbuka, sajadah travel premium yang lebih tebal namun tetap mudah dilipat, hingga model yang dapat dilipat menjadi ukuran sangat kecil. Pilihan biasanya disesuaikan dengan kebutuhan dan aktivitas pengguna.
Membawa sajadah sendiri ke masjid juga dipandang memiliki sejumlah keuntungan. Selain alasan kebersihan pribadi, sebagian jamaah merasa lebih nyaman menggunakan sajadah yang sudah familiar. Sajadah pribadi juga membantu ketika masjid sedang ramai atau area shalat meluas ke bagian tambahan. Di luar masjid, sajadah travel dapat memudahkan shalat saat berada dalam perjalanan atau di tempat kerja.
Dalam praktiknya, sebagian jamaah memadukan lebih dari satu perangkat untuk mendukung aktivitas ibadah. Kombinasi yang umum antara lain e-tasbih untuk dzikir setelah shalat dan sajadah travel untuk shalat di berbagai tempat. Di sisi lain, smartphone juga kerap dimanfaatkan untuk aplikasi Al-Qur’an digital, pengingat waktu shalat, maupun catatan target ibadah, meski perangkat ini tidak selalu dirancang khusus untuk penggunaan di masjid.
Meski demikian, penggunaan perangkat tetap perlu memperhatikan kenyamanan bersama dan kekhusyukan. Sejumlah langkah yang dapat dilakukan antara lain menggunakan gadget hanya saat diperlukan, menghindari suara atau notifikasi yang mengganggu jamaah lain, mematikan mode suara pada ponsel di area masjid, serta memastikan perangkat berfungsi sebagai alat bantu, bukan fokus utama ibadah.
Pada bulan Ramadhan, ketika aktivitas masjid biasanya meningkat seperti tarawih, tadarus, dan kajian, perangkat praktis dinilai semakin relevan. E-tasbih dapat digunakan untuk dzikir setelah tarawih, sementara sajadah travel membantu jamaah ketika area shalat meluas. Sejumlah perlengkapan lain yang sering dibawa sebagian orang mencakup lampu kecil portable untuk membaca, tas kecil perlengkapan ibadah, dan botol minum praktis.
Tren penggunaan perangkat ibadah ini juga disebut membuka peluang usaha, terutama menjelang Ramadhan dan musim haji. Permintaan terhadap e-tasbih digital dan sajadah travel dilaporkan meningkat, mendorong munculnya penjualan perlengkapan ibadah secara daring, paket hampers Ramadhan, hingga produk sajadah travel dengan desain tertentu.
Ke depan, inovasi teknologi dalam perlengkapan ibadah diperkirakan terus berkembang, mulai dari tasbih digital yang terhubung dengan aplikasi ponsel, sajadah dengan sensor arah kiblat, hingga pengingat dzikir otomatis. Meski bentuknya berubah, tujuan utama dari pemanfaatan teknologi tersebut tetap untuk membantu umat Muslim beribadah dengan lebih tertib dan nyaman.
Secara umum, e-tasbih digital dan sajadah travel menjadi dua perangkat yang kian sering dipilih sebagai penunjang ibadah di masjid. Dengan desain yang ringkas dan mudah digunakan, keduanya dipandang dapat membantu jamaah yang memiliki mobilitas tinggi sekaligus ingin menjaga kebersihan dan kenyamanan saat beribadah.