Jakarta—Universitas Nusa Mandiri (UNM) memperkuat perannya dalam pembangunan nasional melalui partisipasi aktif dalam Program Hibah BESTARI Saintek Tahun 2026. Program ini membuka ruang kolaborasi antara akademisi dan masyarakat, komunitas, pemerintah daerah, serta mitra industri.
Melalui program tersebut, dosen UNM didorong menghadirkan inovasi berbasis sains dan teknologi dengan pendekatan Living Lab. Model riset terapan ini melibatkan masyarakat secara langsung sebagai bagian dari proses inovasi, mulai dari tahap perencanaan hingga implementasi solusi di lapangan.
Sejumlah proposal dari dosen UNM mengangkat isu di berbagai sektor, seperti pertanian, lingkungan, kesehatan, serta penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Fokusnya diarahkan pada upaya pemecahan masalah nyata yang dihadapi masyarakat secara inklusif dan berkelanjutan.
Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Nusa Mandiri, Dr. Nita Merlina, menegaskan bahwa orientasi dampak sosial menjadi prinsip utama dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi. “Universitas tidak boleh terlepas dari masyarakat. Melalui Program BESTARI Saintek 2026, Universitas Nusa Mandiri memastikan bahwa inovasi dosen benar-benar hadir sebagai solusi yang aplikatif, inklusif, dan berkelanjutan,” ujarnya dalam rilis yang diterima pada Selasa (27/1).
Menurut Nita, sinergi antara akademisi dan masyarakat tidak hanya memperkuat kualitas riset, tetapi juga mendorong perguruan tinggi agar semakin relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional.
Dengan semangat kolaborasi tersebut, UNM menyatakan optimistis dapat terus melahirkan inovasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berdampak pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.