BERITA TERKINI
Dokter RSI Unisma: Penggunaan Gadget dan Paparan AC Picu Keluhan Mata Kering

Dokter RSI Unisma: Penggunaan Gadget dan Paparan AC Picu Keluhan Mata Kering

MALANG — Keluhan mata kering kian sering dialami masyarakat seiring meningkatnya penggunaan perangkat digital dan paparan pendingin ruangan. Kondisi yang kerap dianggap sepele ini dapat menjadi tanda awal gangguan kesehatan mata yang dikenal sebagai Dry Eye Disease.

Dokter spesialis mata RSI Unisma Malang, Ahmad Thohir, menjelaskan mata kering terjadi ketika permukaan mata tidak mendapatkan pelumasan yang cukup dari air mata. Salah satu penyebab yang paling sering ditemui adalah paparan pendingin ruangan atau AC dalam waktu lama. Udara kering dari AC dapat mempercepat penguapan air mata sehingga mata terasa kering, sepet, atau seperti ada benda asing.

Selain faktor lingkungan, penggunaan perangkat digital juga berperan besar memicu mata kering. Menurut Thohir, saat seseorang menatap layar komputer atau ponsel terlalu lama, frekuensi berkedip biasanya menurun drastis. Dalam kondisi normal, manusia berkedip sekitar 20 kali per menit. Namun saat fokus menatap layar gadget, frekuensinya bisa turun menjadi sekitar lima hingga tujuh kali per menit.

Padahal, berkedip berfungsi menyebarkan air mata ke seluruh permukaan mata agar tetap lembap. Ketika frekuensi berkedip berkurang, permukaan mata akan lebih cepat mengalami kekeringan.

Thohir menambahkan, air mata memiliki tiga lapisan penting, yakni lapisan minyak di bagian luar yang berfungsi mencegah penguapan, lapisan air di bagian tengah, serta lapisan mukus yang membantu air mata menempel pada kornea. Jika lapisan tersebut terganggu, kestabilan air mata menurun sehingga mata lebih mudah kering.

Gejala mata kering dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari mata terasa perih, sepet, sensasi seperti ada benda asing, hingga penglihatan yang kadang jelas dan kadang kabur. Mata juga bisa menjadi lebih sensitif terhadap angin atau paparan AC.

Ia mengingatkan agar keluhan tersebut tidak diabaikan. Jika gejala mata kering berlangsung lebih dari dua minggu atau sering kambuh meski sudah menggunakan obat tetes mata, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke dokter.

Sejumlah kelompok disebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami mata kering, di antaranya perempuan, penderita penyakit autoimun, pasien yang pernah menjalani operasi katarak, serta pekerja yang harus menatap layar komputer lebih dari enam jam per hari.

Untuk pencegahan, Thohir menyarankan masyarakat memberi waktu istirahat pada mata secara berkala, terutama bagi pengguna komputer. Salah satu cara sederhana adalah mengalihkan pandangan ke objek yang lebih jauh selama beberapa saat.

Pada kasus ringan, dokter biasanya memberikan obat tetes mata pelumas atau artificial tears untuk membantu menjaga kelembapan permukaan mata. Selain itu, menjaga pola hidup sehat juga dinilai penting untuk mendukung kesehatan mata, termasuk konsumsi sayur dan buah yang cukup serta makanan yang mengandung vitamin A, karoten, lutein, dan retinol.

“Yang paling penting adalah menjaga pola hidup sehat serta mengurangi faktor-faktor yang dapat memicu penguapan air mata secara berlebihan,” pungkasnya.